Perilaku Sosial Dan Perilaku Tidak Sosial
A.
Pengertian
Perilaku sosial adalah
suasana saling ketergantungan yang merupakan keharusan untuk menjamin
keberadaan manusia (Rusli Ibrahim, 2001). Sebagai bukti bahwa manusia
dalam memnuhi kebutuhan hidup sebagai diri pribadi tidak dapat melakukannya
sendiri melainkan memerlukan bantuan dari orang lain.Ada ikatan saling
ketergantungan diantara satu orang dengan yang lainnya. Artinya
bahwa kelangsungan hidup manusia berlangsung dalam suasana saling
mendukung dalam kebersamaan. Untuk itu manusia dituntut mampu
bekerja sama, saling menghormati, tidak menggangu hak orang lain, toleran dalam
hidup bermasyarakat.
Menurut Krech, Crutchfield
dan Ballachey (1982) dalam Rusli Ibrahim (2001), perilaku sosial
seseorang itu tampak dalam pola respons antar orang yang dinyatakan dengan
hubungan timbal balik antar pribadi. Perilaku sosial juga identik
dengan reaksi seseorang terhadap orang lain (Baron & Byrne, 1991 dalam
Rusli Ibrahim, 2001). Perilaku itu ditunjukkan dengan perasaan,
tindakan, sikap keyakinan, kenangan, atau rasa hormat terhadap orang lain.
Perilaku sosial seseorang merupakan sifat relatif untuk menanggapi orang lain
dengan cara-cara yang berbeda-beda. Misalnya dalam melakukan kerja sama, ada
orang yang melakukannya dengan tekun, sabar dan selalu mementingkan
kepentingan bersama diatas kepentingan pribadinya. Sementara di pihak lain, ada
orang yang bermalas-malasan, tidak sabaran dan hanya ingin mencari
untung sendiri.
Sesungguhnya yang
menjadi dasar dari uraian di atas adalah bahwa pada hakikatnya manusia
adalah makhluk sosial (W.A. Gerungan, 1978:28). Sejak dilahirkan manusia
membutuhkan pergaulan dengan orang lain untuk memuhi kebutuhan biologisnya.
Pada perkembangan menuju kedewasaan, interaksi social diantara manusia dapat
merealisasikan kehidupannya secara individual. Hal ini dikarenakan
jika tidak ada timbal balik dari interaksi sosial maka manusia tidak
dapat merealisasikan potensi-potensinya sebagai sosok individu yang utuh
sebagai hasil interaksi sosial. Potensi-potensi itu pada awalnya
dapat diketahui dari perilaku kesehariannya. Pada saat
bersosialisasi maka yang ditunjukkannya adalah perilaku sosial. Pembentukan
perialku sosial seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang bersifat
internal maupun yang bersifat eksternal. Pada aspek eksternal
situasi sosial memegang pernana yang cukup penting. Situasi sosial
diartikan sebagai tiap-tiap situasi di mana terdapat saling
hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain (W.A.
Gerungan,1978:77). Dengan kata lain setiap situasi yang menyebabkan terjadinya
interaksi social dapatlah dikatakan sebagai situasi sosial. Contoh situasi
sosial misalnya di lingkungan pasar, pada saat rapat, atau
dalam lingkungan pembelajaran pendidikan jasmani.
Perilaku sosial
merupakan aktivitas dalam hubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya,
guru, orang tua maupun saudara-saudaranya. Di dalam hubungan dengan orang lain,
terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat bermakna dalam kehidupannya yang
membentuk kepribadiannya, yang membantu perkembangannya menjadi manusia
sebagaimana adanya.
Sejak kecil anak telah belajar cara
berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling dekat dengan
dia, yaitu : ibunya, ayahnya, saudarasaudaranya, dan anggota keluarga yang
lain. Apa yang telah dipelajari anak dari lingkungan keluarganya sangat
mempengaruhi perilaku sosialnya. Perasaan terhadap orang lain, juga merupakan
hasil dari pengalaman yang lampau dan mempengaruhi hubungan sosial, seperti
yang dapat diobservasi dalam situasi kehidupan sehari-hari. Hasil observasi di
kelas sebagaimana yang diungkapkan oleh Johnson (1975 : 82) menunjukan bahwa anak
berperilaku dalam suatu kelompok berbeda dengan perilakunya dalam kelompok
lain. Perilaku anak dalam kelompok juga berbeda dengan pada waktu dia
sendirian. Kehadiran orang lain dapat menimbulkan reaksi yang berbeda pada
tiap-tiap anak. Menurut Johnson , perbedaan ini dapat terjadi karena beberapa
faktor, yaitu : persepsi individu yang menjadi anggota kelompok, lingkungan
tempat terjadinya interaksi dan pola kepemimpinan yang dipakai guru di kelas.
Faktor-Faktor Pembentuk Perilaku Sosial
Baron dan Byrne berpendapat
bahwa ada empat kategori utama yang dapat membentuk perilaku sosial seseorang,
yaitu :
a. Perilaku dan karakteristik orang lain
Jika
seseorang lebih sering bergaul dengan orang-orang yang memiliki karakter
santun, ada kemungkinan besar ia akan berperilaku seperti kebanyakan
orang-orang berkarakter santun dalam lingkungan pergaulannya. Sebaliknya, jika
ia bergaul dengan orang-orang berkarakter sombong, maka ia akan terpengaruh
oleh perilaku seperti itu. Pada aspek ini guru memegang peranan penting
sebagai sosok yang akan dapat mempengaruhi pembentukan perilaku sosial siswa
karena ia akan emberikan pengaruh yang cukup besar dalam mengarahkan siswa
untuk melakukan sesuatu perbuatan.
b. Proses kognitif
Ingatan
dan pikiran yang memuat ide-ide, keyakinan dan pertimbangan yang menjadi dasar
kesadaran sosial seseorang akan berpengaruh terhadap perilaku sosialnya.
Misalnya seorang calon pelatih yang terus berpikir agar kelak
dikemudian hari menjadi pelatih yang baik, menjadi idola bagi
atletnya dan orang lain akan terus berupaya dan berproses mengembangkan
dan memperbaiki dirinya dalam perilaku sosialnya. Contoh lain misalnya seorang
siswa karena selalu memperoleh tantangan dan pengalaman
sukses dalam pembelajaran penjas maka ia memiliki sikap positif terhadap
aktivitas jasmani yang ditunjukkan oleh perilaku sosialnya yang
akan mendukung teman-temannya untuk beraktivitas jasmani dengan benar.
c. Faktor lingkungan
Lingkungan
alam terkadang dapat mempengaruhi perilaku sosial
seseorang.Misalnya orang yang berasal dari daerah pantai atau pegunungan yang
terbiasa berkata dengan keras, maka perilaku sosialnya seolah
keras pula, ketika berada di lingkungan masyarakat yang terbiasa
lembut dan halus dalambertutur kata.
d. Tatar Budaya sebagai tampat
perilaku dan pemikiran sosial itu terjadi
Misalnya,
seseorang yang berasal dari etnis budaya tertentu mungkin akanterasa
berperilaku sosial aneh ketika berada dalam lingkungan masyarakat yang
beretnis budaya lain atau berbeda. Dalam konteks pembelajaran
pendidikan jasmani yang terpenting adalah untuk saling menghargai
perbedaan yang dimiliki oleh setiap anak.
Bentuk dan
Jenis Perilaku Sosial
Bentuk dan perilaku sosial seseorang dapat
pula ditunjukkan oleh sikap sosialnya. Sikap menurut Akyas Azhari
(2004:161) adalah “suatu cara bereaksiterhadap suatu perangsang tertentu.
Sedangkan sikap sosial dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang sama dan
berulang-ulang terhadap obyek sosial yang menyebabkan terjadinya
cara-cara tingkah laku yang dinyatakan berulang-ulang terhadap salah satu obyek
sosial (W.A. Gerungan, 1978:151-152).
Berbagai bentuk dan
jenis perilaku sosial seseorang pada dasarnya merupakan karakter atau ciri
kepribadian yang dapat teramati ketika seseorang berinteraksi
dengan orang lain. Seperti dalam kehidupan berkelompok,
kecenderungan perilaku sosial seseorang yang menjadi anggota
kelompok akanakan terlihat jelas diantara anggota kelompok yang lainnya.
Perilaku sosial dapat dilihat melalui sifat-sifat dan pola respon
antarpribadi, yaitu :
1. Kecenderungan
Perilaku Peran
a. Sifat pemberani dan
pengecut secara sosial
Orang yang
memiliki sifat pemberani secara sosial, biasanya dia
sukamempertahankan dan membela haknya, tidak malu-malu atau tidak
seganmelakukan sesuatu perbuatan yang sesuai norma di masyarakat
dalam mengedepankan kepentingan diri sendiri sekuat tenaga. Sedangkan
sifatpengecut menunjukkan perilaku atau keadaan sebaliknya, seperti kurang
suka mempertahankan haknya, malu dan segan berbuat
untukmengedepankan kepentingannya.
b. Sifat berkuasa dan sifat
patuh
Orang yang
memiliki sifat sok berkuasa dalam perilaku sosial biasanya
ditunjukkan oleh perilaku seperti bertindak tegas, berorientasi
kepada kekuatan, percaya diri, berkemauan keras, suka memberi
perintah dan memimpin langsung. Sedangkan sifat yang patuh
atau penyerah menunjukkan perilaku sosial yang sebaliknya,
misalnya kurang tegas dalam bertindak, tidak suka memberi
perintah dan tidak berorientasikepada kekuatan dan kekerasan.
c. Sifat inisiatif secara
sosial dan pasif
Orang yang
memiliki sifat inisiatif biasanya suka mengorganisasi kelompok,
tidak sauka mempersoalkan latar belakang, suka memberi masukan atau
saran-saran dalam berbagai pertemuan, dan biasanya suka mengambil alih
kepemimpinan. Sedangkan sifat orang yang pasif secara sosial ditunjukkan
oleh perilaku yang bertentangan dengan sifat orang yang aktif, misalnya
perilakunya yang dominan diam, kurang berinisiatif, tidak suka memberi saran
atau masukan.
d. Sifat mandiri dan
tergantung
Orang yang memiliki
sifat mandiri biasanya membuat segala sesuatunya dilakukan oleh dirinya
sendiri, seperti membuat rencana sendiri, melakukan sesuatu dengan cara-cara
sendiri, tidak suak berusaha mencari nasihat atau dukungan dari orang
lain, dan secara emosiaonal cukup stabil. Sedangkan sifat orang
yang ketergantungan cenderung menunjukkan perilaku sosial sebaliknya dari
sifat orang mandiri, misalnya membuat rencana dan melakukan
segala sesuatu harus selalu mendapat saran dan dukungan orang lain, dan keadaan
emosionalnya relatif labil.
2. Kecenderungan perilaku dalam
hubungan sosial
a. Dapat diterima atau
ditolak oleh orang lain
Orang yang
memiliki sifat dapat diterima oleh orang lain biasanya tidak
berprasangka buruk terhadap orang lain, loyal, dipercaya, pemaaf dan
tulus menghargai kelebihan orang lain. Sementara sifat orang
yang ditolak biasanya suak mencari kesalahan dan tidak mengakui kelebihan orang
lain.
b.
Suka bergaul dan tidak suka bergaul
Orang yang suka bergaul
biasanya memiliki hubungan sosial yang baik, senang
bersama dengan yang lain dan senang bepergian. Sedangkan orang yang tidak
suak bergaul menunjukkan sifat dan perilaku yang sebaliknya.
c.
Sifat ramah dan tidak ramah
Orang yang ramah
biasanya periang, hangat, terbuka, mudah didekati orang,dan suka
bersosialisasi. Sedang orang yang tidak ramah cenderung bersifat sebaliknya.
d. Simpatik atau
tidak simpatik
Orang yang memiliki
sifat simpatik biasanya peduli terhadap perasaan dan keinginan orang lain,
murah hati dan suka membela orang tertindas.Sedangkan orang yang tidak
simpatik menunjukkna sifat-sifat yang sebaliknya.
3. Kecenderungan perilaku ekspresif
a. Sifat suka bersaing
(tidak kooperatif) dan tidak suka bersaing (suka bekerjasama)
Orang yang suka
bersaing biasanya menganggap hubungan sosial sebagai perlombaan, lawan
adalah saingan yang harus dikalahkan, memperkaya dirisendiri. Sedangkan orang
yang tidak suka bersaing menunjukkan sifat-sifatyang sebaliknya
b. Sifat agresif dan
tidak agresif
Orang yang
agresif biasanya suka menyerang orang lain baik langsungataupun
tidak langsung, pendendam, menentang atau tidak patuh
padapenguasa, suka bertengkar dan suka menyangkal. Sifat orang yang tidak
agresif menunjukkan perilaku yang sebaliknya.
c. Sifat kalem atau
tenang secara sosial
Orang yang
kalem biasanya tidak nyaman jika berbeda dengan orang lain,
mengalami kegugupan, malu, ragu-ragu, dan merasa terganggu jika ditontonorang.
d. Sifat suka
pamer atau menonjolkan diri
Orang yang suka pamer
biasanya berperilaku berlebihan, suka mencari pengakuan, berperilaku aneh untuk
mencari perhatian orang lain.
Keterampilan-keterampilan sosial yang perlu dimiliki
anak TK adalah :
a). Kemampuan dalam menjalin hubungan dengan orang lain
Pada awal masa bayi
(kira-kira usia tiga bulan), anak sudah mulai menunjukkan keinginannya untuk
berhubungan dengan orang lain, dengan “senyum sosial” yang ditunjukkannya bila
ada orang yang mendekatinya. Pada saat itu sifat hubungannya dengan orang lain
masih sangat terbatas, karena kemampuan reaksi dan komunikasinya yang juga masih amat terbatas.
Kemudian pada akhir masa bayi (kira-kira usia dua tahun) anak sudah mulai dapat
berbicara dan memiliki beberapa puluh kosa kata, keinginan untuk menjalin
hubungan antar manusia sudah lebih nyata, hal ini ditampakkan melalui sikap dan
perilakunya terhadap orang-orang yang ditemuinya, terutama dengan anak-anak
sebaya.
Masuknya anak ke TK
memberikan kesempatan bergaul dengan anak lain yang sebaya semakin besar. Hal
ini memberikan peluang pada anak untuk lebih melancarkan dan meningkaan
kemampuan berkomunikasinya. Pada usia TK anak diharapkan telah dapat menyatakan
perasaan-perasaannya melalui kata-kata, bila marah pada temannya ia akan
mengatakan “kamu nakal atau kamu jahat”, kalau takut sesuatu ia akan mengatakan
“saya takut itu” atau kalau ia senang ia juga akan mengatakan “saya senang”. Selain
dari itu, anak juga sudah mulai mampu membaca situasi yang dihadapi. Bila
merebut mainan temannya, kemudian temannya cemberut dan guru memelototinya, ia
tahu bahwa perilakunya itu tidak disukai oleh teman dan gurunya. Anak juga
mulai dapat memilih teman yang dianggap sesuai dengan keinginannya, mulai
mempunyai teman yang dianggap sesuai dengan keinginannya, mulai mempunyai teman
dekat, dan menghindari teman-teman yang tidak disukainya. Pada usia ini anak
juga sudah mulai dapat bermain dalam kelompok kecil yang menuntut kebersamaan
dan kerjasama, mulai belajar berbagai hal dengan orang lain, belajar menunggu
giliran dan lain-lain.
Pengalaman berhubungan
(bersosialisasi) dengan orang lain ini memberikan pelajaran pada anak bahwa ada
perilaku-perilaku yang disukai oleh teman-teman atau gurunya yang menyebabkan
ia diterima di lingkungan mereka, dan ia tahu pula bahwa ada perilaku-perilaku
yang tidak disukai temannya. Dengan pengetahuannya itu anak mulai mengubah
perilaku yang negatif dan mengembangkan perilakuperilaku yang positif agar
hubungan dengan orang lain dapat tetap berlangsung dengan baik. Anak semakin
mampu mengendalikan perasaan-perasaannya dan mengikuti aturan-aturan yang
ditentukan oleh lingkungannya, untuk dapat mempertahankan hubungan yang baik
dengan orang lain.
Bila pengalaman awal
seorang anak dalam bersosialisasi lebih banyak memberi kesenangan dan kepuasan,
maka dapat diperkirakan proses sosialisasinya berkembang ke arah yang positif,
tetapi sebaliknya bila tidak, hambatan dan kesulitan dalam bersosialisasi akan
banyak ditemui anak.
b) Kemampuan melakukan kegiatan bermain dan menggunakan waktu luang
Dunia anak adalah dunia
bermain, khususnya pada anak prasekolah bermain merupakan kebutuhan dasar
mereka. Dengan demikian wajarlah bila sebagian besar waktu anak diisi dengan
kegiatan bermain. Elizabeth B. Hurlock (1978: 234) memberikan batasan tentang
bermain sebagai kegiatan yang dilakukan tanpa mempertimbangkan hasil akhir, semata-mata
untuk menimbulkan kesenangan dan kegembiraan saja. Biasanya anak melakukannya secara
suka rela, tanpa paksaan dan tanpa ada aturan main tertentu, kecuali bila ditentukan
oleh pihak-pihak yang terlibat dalam permainan tersebut. Anak usia prasekolah
pada umumnya senang melakukan permainan yang mengandung aktivitas gerak,
seperti berlari, meloncat, memanjat dan bersepeda, tetapi ada pula anak yang
tidak begitu menyukai kegiatan bermain aktif, anak demikian lebih memilih
bentuk kegiatan bermain pasif yang kurang banyak merangsang aspek fisik
motoriknya tetapi lebih merangsang aspek perkembangan lainnya, terutama
perkembangan kognitifnya. Kedua jenis
kegiatan bermain ini baik bermain aktif maupun bermain pasifsama-sama
bermanfaat bagi perkembangan anak, namun untuk memberi manfaat yang optimal dan
bersifat menyeluruh bagi perkembangan anak, kedua jenis kegiatan bermain ini
perlu dilakukan oleh anak secara seimbang.
c) Kemampuan anak mengatasi situasi sosial yang dihadapi
Kemampuan anak dalam
mengatasi situasi sosial yang dihadapi erat kaitannya dengan kemampuan anak
dalam menjalin hubugan antar manusia. Hal ini disebabkan karena situasi sosial
yang dihadapi anak, mau tidak mau melibaan orang lain sehingga pada dasarnya
tidak dapat lepas dari hubungannya dengan orang lain. Salah satu yang berkaitan
dengan kemampuan mengatasi situasi sosial ini, anak tidak selalu harus
berhubungan secara langsung dengan orang lain. Masalah yang dihadapinya tidak
berhubungan langsung dengan orang lain, tetapi berhubungan dengan situasi
sosial, yaitu situasi yang diciptakan oleh orang lain. Misalnya, seorang anak
TK sedang mengikuti kegiatan menggambar di kelas, yang sebenarnya tidak disukainya.
Keadaan ini menimbulkan perasaan dan pengalaman yang tidak enak pada dirinya. Bila
ia tidak mau melakukan kegiatan itu ia takut dihukum gurunya, tetapi bila ia
mengikuti terus ia merasa sangat bosan. Mengatasi situasi semacam ini diperlukan
kemampuan anak untuk mencari pemecahan masalah yang sebaikbaiknya sesuai dengan
perkembangan yang telah dicapainya. Pada usia ini diharapkan anak telah
menyadari tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Ia sudah harus dapat
mengikuti aturan main yang ada, mengikuti tokoh otoritas yang dihadapi dan
mencoba untuk mengendalikan perasaan-perasaanya dengan cara yang lebih positif.
Menurut Dini P. Daeng S (1996: 114) ada empat faktor yang berpengaruh
pada kemampuan bersosialisasi anak, yaitu :
1. Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang di sekitarnya dari berbagai
usia dan latar belakang.
2. Banyak dan bervariasinya pengalaman dalam bergaul dengan orang-orang
di lingkungannya.
3. Adanya minat dan motivasi untuk bergaul
4. Banyaknya pengalaman yang menyenangkan yang diperoleh melalui
pergaulan dan aktivitas sosialnya.
5. Adanya bimbingan dan pengajaran dari orang lain, yang biasanya menjadi
“model” bagi anak.
6. Adanya bimbingan dan pengajaran yang secara sengaja diberikan oleh
orang yang dapat dijadikan “model” bergaul yang baik bagi anak.
7. Adanya kemampuan berkomunikasi yang baik yang dimiliki anak.
8. Adanya kemampuan berkomunikasi yang dapat membicarakan topik yang
dapat dimengerti dan menarik bagi orang lain yang menjadi lawan bicaranya.
Menurut Elizabeth B.
Hurlock (1978 : 228) untuk menjadi orang yang mampu bersosialisasi memerlukan tiga
proses. Masing-masing proses terpisah dan sangat berbeda satu sama lain, tetapi
saling berkaitan. Kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar
sosialisasinya. Ketiga proses sosialisasi tersebut adalah :
1. Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial. Setiap kelompok sosial mempunyai standar
bagi para anggotanya tentang perilaku yang dapat diterima. Untuk dapat
besosialisasi anak tidak hanya harus mengetahui perilaku yang dapat diterima,
tetapi mereka juga harus menyesuaikan perilakunya dengan patokan yang dapat
diterima.
2. Memainkan peran sosial yang dapat diterima. Setiap kelompok sosial
mempuyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para
anggotannya dan dituntut untuk dipatuhi. Sebagai contoh, ada peran yang telah disetujui
bersama bagi orang tua dan anak serta ada pula peran yang telah disetujui
bersama bagi guru dan murid. Anak dituntut untuk mampu memainkan peran-peran
sosial yang diterimanya.
3. Perkembangan sikap sosial. Untuk bersosialisasi dengan baik anak-anak
harus menyenangi orang dan kegiatan sosial. Jika mereka dapat melakukannya, mereka
akan berhasil dalam penyesuaian sosial dan diterima sebagai anggota kelompok
sosial tempat mereka bergaul.
Menurut Helms &
Turner (1984 : 225) pola perilaku sosial anak dapat dilihat dari empat dimensi,
yaitu : (1) anak dapat bekerjasama (cooperating) dengan teman, (2) anak mampu
menghargai (altruism) teman, baik dalam hal menghargai milik, pendapat, hasil
karya teman atau kondisi-kondisi yang ada pada teman, (3) anak mampu berbagi
(sharing) kepada teman. Apakah anak mampu berbagi sesuatu yang dimilikinya
kepada teman, mau mengalah pada teman dan sebagainya, dan (4) anak mampu
membantu (helping others) orang lain. Hal ini tidak hanya ditunjukkan dalam
hubungannya dengan teman sebaya tetapi juga dengan orang dewasa lainnya. Pengaruh
Kelompok Sosial Pada semua tingkatan usia, orang dipengaruhi oleh kelompok
sosial dengan siapa mereka mempunyai hubungan tetap, dan merupakan tempat
mereka mengidentifikasi diri. Pengaruh ini paling kuat terjadi pada masa
kanak-kanak dan sebagian masa remaja akhir. Menurut Elizabeth. B. Hurlock
(1978, 231), keluarga merupakan agen sosialisasi yang paling penting. Ketika
anak-anak memasuki sekolah, guru mulai memasukkan pengaruh terhadap sosialisasi
mereka, meskipun pengaruh teman sebaya biasanya lebih kuat dibandingkan dengan
pengaruh guru dan orang tua. Studi tentang perbedaan antara pengaruh teman
sebaya dan pengaruh orang tua terhadap keputusan anak pada berbagai tingkatan
umur menemukan bahwa dengan meningkatnya umur anak, jika nasihat yang diberikan
oleh keduanya (orang tua dan teman sebaya) berbeda maka anak cenderung lebih
terpengaruh oleh teman sebaya.
Interaksi Sosial Anak dengan Teman
Sebaya
Hubungan antara anak
dengan teman sebaya merupakan bagian dari interaksi sosial yang dilakukan anak
dengan lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakatnya. Bonner merumuskan
interaksi sosial sebagai hubungan antara dua atau lebih individu di mana
kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan
individu yang lain atau sebaliknya. Berdasarkan rumusan tersebut, terlihat
bahwa dalam interaksi sosial terjadi hubungan timbal balik antara individu yang
satu dengan individu lainnya. Teman sebaya menurut Havighurst (1978:45) dipandang
sebagai suatu “kumpulan orang yang kurang lebih berusia sama yang berpikir dan
bertindak bersama-sama”.
Pada usia sekolah,
anak-anak mulai keluar dari lingkungan keluarga dan memasuki dunia teman
sebaya. Peristiwa ini merupakan perubahan situasi dari suasana emosional yang
aman yang dalam hal ini hubungan yang erat dengan ibu dan anggota keluarga
lainnya ke kehidupan dunia baru. Dalam dunia baru yang dimasuki anak, ia harus
pandai menempaan diri di antara teman sebaya yang sedikit banyak akan berlomba
dalam menarik perhatian guru.
Anak-anak hendaknya
belajar memperoleh kepuasan yang lebih banyak dari kehidupan sosial bersama
teman sebayanya. Melalui kehidupan sosial kelompok sebaya anak belajar memberi
dan menerima., belajar berteman dan bekerja yang semuanya itu dapat
mengembangkan kepribadian sosial anak. Vygotsky (Berk, L.E., & Winsler, A.,
1995) menekankan pentingnya konteks sosial dalam proses belajar anak.
Pengalaman interaksi sosial ini sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan
berpikir anak. Lebih lanjut, bahkan ia menjelaskan bahwa bentuk-bentuk
aktivitas mental yang tinggi diperoleh darikonteks sosial dan budaya tempat
anak berinteraksi dengan teman-temannya atau orang lain. Mengingat betapa
pentingnya peran konteks sosial ini, Vygotsky menyarankan untuk memahami
perkembangan anak, kita dituntut untuk memahami relasi-relasi sosial yang
terjadi pada lingkungan tempat anak itu bergaul. Proses pembelajaran dalam
kelompok sebaya merupakan proses pembelajaran “kepribadian sosial” yang sesungguhnya.
Anak-anak belajar cara-cara mendekati orang asing, malu-malu atau berani,
menjauhkan diri atau bersahabat. Ia belajar bagaimana memperlakukan
teman-temannya, ia belajar apa yang disebut dengan bermain jujur. Seseorang
yang telah mempelajari kebiasaan-kebiasaan sosial tersebut, cenderung akan
melanjutkannya dalam seluruh kehidupannya. Pengalaman anak berinteraksi sosial
dengan anak lain dan bahkan dengan orang dewasa tidak saja memfasilitasi
keterampilan anak dalam berkomunikasi dan sosialnya, tetapi juga turut
mengembangkan aspek-aspek perkembangan lainnya, seperti perkembangan kognisi,
emosi dan moralnya. Pergaulan sosial ini merupakan pengalaman hidup yang kaya
dan alami bagi anak sehingga dapat mendorong segenap aspek perkembangan anak
secara lebih terintegrasi dan menyeluruh. Melalui interaksi sosial, anak dapat
berlatih mengekspresikan emosinya dan menguji perilaku-perilaku moralnya secara
tepat. Begitu pula pengenalan anak terhadap pola pikir orang lain dapat
memperkaya pengalaman kognisinya.
Dalam berinteraksi
dengan teman sebaya, anak akan memilih anak lain yang usianya hampir sama, dan
di dalam berinteraksi dengan teman sebaya lainnya, anak dituntut untuk dapat
menerima teman sebayanya. Dalam penerimaan teman sebayanya anak harus mampu menerima
persamaan usia, menunjukkan minat terhadap permainan, dapat menerima teman lain
dari kelompok yang lain, dapat menerima jenis kelamin lain, dapat menerima
keadaan fisik anak yang lain, mandiri atau dapat lepas dari orang tua atau
orang dewasa lain, dan dapat menerima kelas sosial yang berbeda
Faktor penting lainnya
yang mempengaruhi perkembangan kelompok sosial ini adanya kepemimpinan sebaya
(peer leadership). Dalam kelompok sosial ini seorang anak dianggap mampu
memimpin apabila memiliki karakteristik-karakteristik kemampuan (intelektual)
lebih, memiliki kemampuan berkuasa (uthoritarian) dan kemampuan mengendalikan
(assertive) teman yang lain.
B. Contoh Pola Perilaku Sosial dan Tidak Sosial
Pola perilaku sosial
menurut Elizabeth. B. Hurlock (1978 : 239) terbagi atas dua kelompok, yaitu
pola perilaku yang sosial dan pola perilaku yang tidak sosial. Pola perilaku yang termasuk dalam
perilaku sosial adalah :
1. Kerja sama.
Sekelompok anak belajar
bermain atau bekerja bersama dengan anak lain. Semakin banyak kesempatan untuk
melakukan sesuatu bersama-sama, semakin cepat mereka belajar melakukannya
dengan bekerja sama.
2. Persaingan.
Persaingan merupakan dorongan bagi anak-anak
untuk berusaha sebaik-baiknya, hal itu akan menambah sosialisasi mereka. Jika
hal itu diekspresikan dalam pertengkaran dan kesombongan, dapat mengakibaan timbulnya
sosialisasi yang buruk yang dialami anak.
3. Kemurahan hati.
Kemurahan hati, terlihat
pada kesediaan untuk berbagi sesuatu dengan anak lain meningkat dan sikap
mementingkan diri sendiri semakin berkurang setelah anak belajar bahwa
kemurahan hati menghasilkan penerimaan sosial.
4. Hasrat akan penerimaan sosial.
Jika hasrat pada diri anak untuk diterima
kuat, hal itu mendorong anak untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial.
Hasrat untuk diterima oleh orang dewasa biasanya timbul lebih awal dibandingkan
dengan hasrat untuk diterima oleh teman sebaya.
5. Simpati.
Anak kecil tidak mampu
berperilaku simpati sampai mereka pernah mengalami situasi yang mirip dengan
dukacita. Anak mengekspresikan simpati dengan berusaha menolong atau menghibur
seseorang yang sedang bersedih.
6. Empati.
Empati adalah kemampuan
meletakkan diri sendiri dalam posisi orang lain dan menghayati pengalaman orang
tersebut. Hal ini dapat berkembang pada anak jika anak dapat memahami ekspresi
wajah atau maksud pembicaraan orang lain.
7. Ketergantungan.
Ketergantungan terhadap orang lain dalam hal
bantuan, perhatian, dan kasih sayang mendorong anak untuk berperilaku dalam
cara yang diterima secara sosial. Anak akan berusaha menunjukkan perilaku
sosial yang dapat diterima agar dapat memenuhi keinginannya.
8. Sikap ramah.
Anak kecil memperlihaan
sikap ramah melalui kesediaannya melakukan sesuatu untuk orang lain atau anak
lain dan dengan mengekspresikan kasih sayang kepada mereka.
9. Sikap tidak mementingkan diri sendiri.
Anak perlu mendapat
kesempatan dan dorongan untuk membagi apa yang mereka miliki. Belajar
memikirkan orang lain dan berbuat untuk orang lain.
10. Meniru.
Dengan meniru orang yang
diterima baik oleh kelompok sosial, anakanak memperoleh kesempatan untuk
mengembangkan sifat dan meningkatlam penerimaan kelompok terhadap diri mereka.
11. Perilaku kelekatan (attachment behavior).
Dari landasan yang
diberikan pada masa bayi, yaitu ketika bayi mengembangkan kelekatan yang hangat
dan penuh cinta kasih kepada ibu atau pengganti ibu, anak kecil mengalihkan
pola perilaku ini kepada anak atau orang lain dan belajar membina persahabatan
dengan mereka.
Adapun
pola perilaku yang tidak sosial adalah perilaku yang menunjukkan:
1. Negativisme.
Negativisme adalah
perlawanan terhadap tekanan dari pihak lain untuk berperilaku tertentu.
Biasanya hal itu dinulai pada usia dua tahun dan mencapai puncaknya antara umur
3 dan 6 tahun. Ekspresi fisiknya mirip dengan ledakan kemarahan, tetapi secara
setahap demi setahap diganti dengan penolakan lisan untuk menuruti perintah.
2. Agresi.
Agresi adalah tindakan
permusuhan yang nyata atau ancaman permusuhan. Biasanya tidak ditimbulkan oleh
orang lain. Anak-anak mengekspresikan sikap agresif mereka berupa penyerangan
secara fisik atau lisan terhadap pihak lain, dan biasanya terhadap anak yang
lebih kecil.
3. Pertengkaran.
Pertengkaran merupakan perselisihan pendapat
yang mengandung kemarahan yang umumnya dimulai apabila seseorang melakukan
penyerangan yang tidak beralasan. Pertengkaran berbeda dari agresi.
Pertengkaran melibaan dua orang atau lebih sedangkan agresi merupakan tindakan
dirinya sendiri. Dalam pertengkaran salah seorang yang terlibat memainkan peran
bertahan sedangkan dalam agresi peran dirinya yang selalu agresif.
4. Mengejek dan menggretak.
Mengejek merupakan serangan secara lisan
terhadap orang lain, sedangkan menggretak merupakan serangan yang bersifat
fisik. Dalam kedua hal tersebut si penyerang memperoleh keputusan dengan menyaksikan
ketidakenakan (ketidak senangan) korban dan usahanya untuk balas dendam.
5. Perilaku yang sok kuasa.
Perilaku ini adalah
kecenderungan untuk mendominasi orang lain atau menjadi “majikan”. Jika
diarahakan secara tepat hal ini dapat menjadi sifat kepemimpinan, tetapi
umumnya tidak demikian, dan biasanya hal ini mengakibaan timbulnya penolakan
dari kelompok sosial.
6. Egosentrisme.
Hampir semua anak kecil
bersifat egosentrik, dalam arti bahwa mereka cenderung berpikir dan berbicara
tentang diri mereka sendiri. Apakah kecenderungan ini akan hilang, menetap atau
akan berkembang semakin kuat, sebagian bergantung pada kesadaran anak bahwa hal
itu membuat mereka tidak populer dan sebagian lagi bergantung pada kuat
lemahnya keinginan mereka untuk menjadi populer.
7. Prasangka.
Landasan prasangka
terbentuk pada masa kanak-kanak awal yaitu ketika anak menyadari bahwa sebagian
orang berbeda dari mereka dalam hal peampilan dan perilaku dan bahwa perbedaan
ini oleh kelompok sosial dianggap sebagai tanda kerendahan. Bagi anak kecil
tidaklah umum mengekspresikan prasangka dengan bersikap membedakan orang-orang
yang mereka kenal.
8. Antagonisme jenis kelamin.
Ketika masa kanak-kanak
berakhir, banyak anak laki-laki ditekan oleh keluarga laki-laki dan teman
sebaya untuk menghindari pergaulan dengan anak perempuan atau memainkan
“permainan anak perempuan”. Mereka juga mengetahui bahwa kelompok sosial
memandang lakilaki lebih tinggi derajatnya daripada anak perempuan. Walaupun
demikian, pada umur ini anak laki-laki tidak melakukan pembedaan terhadap anak
perempuan, tetapi menghindari mereka dan menghindari aktivitas yang dianggap
sebagai aktivitas anak perempuan.