Wednesday, November 18, 2015

prilaku sosial unsosial

Perilaku Sosial Dan Perilaku Tidak Sosial
 A. Pengertian
            Perilaku sosial adalah suasana saling ketergantungan yang merupakan  keharusan untuk menjamin keberadaan manusia  (Rusli Ibrahim, 2001). Sebagai bukti bahwa manusia dalam memnuhi kebutuhan hidup sebagai diri pribadi tidak dapat melakukannya sendiri melainkan memerlukan bantuan dari orang lain.Ada ikatan  saling ketergantungan diantara satu orang  dengan yang lainnya.   Artinya bahwa kelangsungan  hidup manusia berlangsung dalam  suasana saling mendukung  dalam kebersamaan. Untuk itu manusia dituntut  mampu bekerja sama, saling menghormati, tidak menggangu hak orang lain, toleran dalam hidup bermasyarakat.
            Menurut Krech, Crutchfield dan Ballachey (1982) dalam  Rusli  Ibrahim (2001), perilaku sosial seseorang itu tampak dalam pola respons antar orang yang dinyatakan dengan hubungan timbal  balik  antar pribadi. Perilaku sosial juga identik dengan reaksi seseorang terhadap orang lain (Baron & Byrne, 1991 dalam  Rusli  Ibrahim, 2001). Perilaku itu ditunjukkan dengan perasaan, tindakan, sikap keyakinan, kenangan, atau rasa hormat terhadap orang lain. Perilaku sosial seseorang merupakan sifat relatif untuk menanggapi orang lain dengan cara-cara yang berbeda-beda. Misalnya dalam melakukan kerja sama, ada orang yang melakukannya  dengan tekun,  sabar dan selalu mementingkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadinya. Sementara di pihak lain, ada orang yang  bermalas-malasan, tidak sabaran dan hanya ingin mencari  untung sendiri.
            Sesungguhnya yang menjadi dasar dari uraian di atas adalah bahwa pada  hakikatnya manusia adalah makhluk sosial (W.A. Gerungan, 1978:28). Sejak  dilahirkan manusia membutuhkan pergaulan dengan orang lain untuk memuhi kebutuhan biologisnya. Pada perkembangan menuju kedewasaan, interaksi social diantara manusia dapat merealisasikan kehidupannya secara individual.   Hal ini dikarenakan jika tidak ada timbal balik dari interaksi sosial  maka manusia tidak  dapat merealisasikan potensi-potensinya sebagai sosok individu yang utuh sebagai hasil interaksi sosial. Potensi-potensi itu pada awalnya  dapat  diketahui  dari perilaku kesehariannya. Pada saat bersosialisasi maka yang ditunjukkannya adalah perilaku sosial. Pembentukan perialku sosial seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal.  Pada aspek  eksternal situasi sosial memegang pernana  yang cukup penting. Situasi  sosial diartikan  sebagai  tiap-tiap situasi di  mana terdapat saling  hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain (W.A. Gerungan,1978:77). Dengan kata lain setiap situasi yang menyebabkan terjadinya interaksi social dapatlah dikatakan sebagai  situasi sosial. Contoh situasi sosial  misalnya  di lingkungan  pasar, pada saat rapat, atau dalam  lingkungan pembelajaran pendidikan jasmani.
            Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam hubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, guru, orang tua maupun saudara-saudaranya. Di dalam hubungan dengan orang lain, terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat bermakna dalam kehidupannya yang membentuk kepribadiannya, yang membantu perkembangannya menjadi manusia sebagaimana adanya.
            Sejak kecil anak telah belajar cara berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling dekat dengan dia, yaitu : ibunya, ayahnya, saudarasaudaranya, dan anggota keluarga yang lain. Apa yang telah dipelajari anak dari lingkungan keluarganya sangat mempengaruhi perilaku sosialnya. Perasaan terhadap orang lain, juga merupakan hasil dari pengalaman yang lampau dan mempengaruhi hubungan sosial, seperti yang dapat diobservasi dalam situasi kehidupan sehari-hari. Hasil observasi di kelas sebagaimana yang diungkapkan oleh Johnson (1975 : 82) menunjukan bahwa anak berperilaku dalam suatu kelompok berbeda dengan perilakunya dalam kelompok lain. Perilaku anak dalam kelompok juga berbeda dengan pada waktu dia sendirian. Kehadiran orang lain dapat menimbulkan reaksi yang berbeda pada tiap-tiap anak. Menurut Johnson , perbedaan ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu : persepsi individu yang menjadi anggota kelompok, lingkungan tempat terjadinya interaksi dan pola kepemimpinan yang dipakai guru di kelas.
Faktor-Faktor Pembentuk Perilaku Sosial
            Baron dan Byrne berpendapat bahwa ada empat kategori utama yang dapat membentuk perilaku sosial seseorang, yaitu :
a. Perilaku dan karakteristik orang lain
         Jika  seseorang lebih sering bergaul dengan  orang-orang yang memiliki karakter santun, ada kemungkinan besar ia akan berperilaku seperti kebanyakan orang-orang berkarakter santun dalam lingkungan pergaulannya. Sebaliknya, jika ia bergaul dengan orang-orang berkarakter sombong, maka ia akan terpengaruh oleh perilaku seperti itu.  Pada aspek ini guru memegang peranan penting sebagai sosok yang akan dapat mempengaruhi pembentukan perilaku sosial siswa karena ia akan emberikan pengaruh yang cukup besar dalam mengarahkan siswa untuk melakukan sesuatu perbuatan.
b.   Proses kognitif
               Ingatan dan pikiran yang memuat ide-ide, keyakinan dan pertimbangan yang menjadi dasar kesadaran sosial seseorang akan berpengaruh terhadap perilaku sosialnya. Misalnya seorang calon  pelatih yang terus  berpikir agar kelak dikemudian hari menjadi pelatih  yang baik, menjadi idola  bagi atletnya dan orang lain  akan terus berupaya dan berproses mengembangkan dan memperbaiki dirinya dalam perilaku sosialnya. Contoh lain misalnya seorang  siswa karena selalu  memperoleh tantangan dan pengalaman sukses  dalam pembelajaran penjas maka ia memiliki sikap positif terhadap aktivitas jasmani  yang ditunjukkan oleh  perilaku sosialnya yang akan mendukung teman-temannya untuk beraktivitas jasmani dengan benar.
c.  Faktor lingkungan
               Lingkungan  alam  terkadang dapat  mempengaruhi  perilaku  sosial  seseorang.Misalnya orang yang berasal dari daerah pantai atau pegunungan yang terbiasa berkata dengan keras, maka perilaku sosialnya seolah    keras pula, ketika berada di lingkungan masyarakat  yang terbiasa  lembut dan halus dalambertutur kata.
d.     Tatar Budaya sebagai tampat perilaku dan pemikiran sosial itu terjadi
               Misalnya, seseorang yang berasal dari etnis budaya tertentu mungkin  akanterasa berperilaku sosial aneh ketika berada dalam  lingkungan masyarakat yang beretnis budaya lain atau  berbeda. Dalam  konteks pembelajaran pendidikan  jasmani  yang terpenting adalah untuk saling menghargai perbedaan yang dimiliki oleh setiap anak.
Bentuk dan Jenis Perilaku Sosial
Bentuk dan perilaku sosial seseorang dapat  pula  ditunjukkan oleh sikap sosialnya.  Sikap menurut Akyas Azhari (2004:161) adalah “suatu cara bereaksiterhadap suatu perangsang tertentu. Sedangkan sikap sosial dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap  obyek sosial yang menyebabkan terjadinya  cara-cara tingkah laku yang dinyatakan berulang-ulang terhadap salah satu obyek sosial (W.A. Gerungan, 1978:151-152).
            Berbagai bentuk dan jenis perilaku sosial seseorang pada dasarnya merupakan karakter atau ciri kepribadian yang  dapat  teramati ketika  seseorang berinteraksi dengan orang lain.  Seperti dalam  kehidupan berkelompok, kecenderungan perilaku  sosial seseorang yang menjadi  anggota kelompok akanakan terlihat jelas diantara anggota kelompok yang lainnya. Perilaku sosial dapat  dilihat  melalui sifat-sifat  dan pola respon antarpribadi, yaitu :
1.   Kecenderungan Perilaku Peran
a.      Sifat pemberani dan pengecut secara sosial
            Orang yang memiliki  sifat  pemberani  secara sosial, biasanya dia  sukamempertahankan dan membela haknya, tidak malu-malu atau tidak seganmelakukan sesuatu  perbuatan yang  sesuai norma di masyarakat dalam mengedepankan kepentingan diri sendiri sekuat tenaga. Sedangkan sifatpengecut menunjukkan perilaku atau keadaan sebaliknya, seperti kurang  suka mempertahankan haknya, malu dan  segan berbuat  untukmengedepankan kepentingannya.
b.      Sifat berkuasa dan sifat patuh
            Orang yang  memiliki  sifat  sok berkuasa dalam  perilaku sosial biasanya ditunjukkan  oleh perilaku seperti bertindak tegas, berorientasi  kepada kekuatan, percaya  diri,  berkemauan keras, suka memberi perintah dan  memimpin  langsung.  Sedangkan sifat yang patuh atau penyerah menunjukkan perilaku sosial yang  sebaliknya,  misalnya  kurang tegas dalam  bertindak, tidak  suka memberi perintah dan tidak  berorientasikepada kekuatan dan kekerasan.
c.      Sifat inisiatif secara sosial dan pasif
            Orang yang memiliki  sifat inisiatif biasanya suka mengorganisasi  kelompok, tidak sauka mempersoalkan latar belakang, suka memberi  masukan atau saran-saran dalam berbagai pertemuan, dan biasanya suka  mengambil alih kepemimpinan. Sedangkan sifat orang yang pasif secara sosial  ditunjukkan oleh perilaku yang bertentangan dengan sifat orang yang aktif, misalnya perilakunya yang dominan diam, kurang berinisiatif, tidak suka memberi saran atau masukan.
d.      Sifat mandiri dan tergantung
            Orang yang memiliki sifat mandiri biasanya membuat segala sesuatunya  dilakukan oleh dirinya sendiri, seperti membuat rencana sendiri, melakukan sesuatu dengan cara-cara sendiri, tidak suak berusaha mencari nasihat atau  dukungan dari orang lain, dan secara emosiaonal  cukup stabil. Sedangkan sifat  orang  yang ketergantungan cenderung menunjukkan perilaku  sosial sebaliknya dari sifat orang mandiri, misalnya  membuat  rencana  dan melakukan segala sesuatu harus selalu mendapat saran dan dukungan orang lain, dan keadaan emosionalnya relatif labil.
2. Kecenderungan perilaku dalam hubungan sosial
a.      Dapat diterima atau ditolak oleh orang lain
            Orang yang memiliki  sifat dapat  diterima oleh orang lain biasanya  tidak  berprasangka buruk terhadap orang lain, loyal, dipercaya, pemaaf dan tulus menghargai  kelebihan  orang lain. Sementara  sifat orang yang ditolak biasanya suak mencari kesalahan dan tidak mengakui kelebihan orang lain.
            b.      Suka bergaul dan tidak suka bergaul
            Orang yang suka bergaul biasanya  memiliki  hubungan sosial  yang baik,  senang bersama dengan yang lain dan senang bepergian. Sedangkan orang  yang tidak suak bergaul menunjukkan sifat dan perilaku yang sebaliknya.
            c.      Sifat ramah dan tidak ramah
            Orang yang ramah biasanya periang, hangat, terbuka, mudah didekati orang,dan suka bersosialisasi. Sedang orang yang tidak ramah cenderung bersifat sebaliknya.
            d.  Simpatik atau tidak simpatik
            Orang yang memiliki sifat simpatik biasanya peduli terhadap perasaan dan keinginan orang lain, murah hati dan suka membela orang tertindas.Sedangkan orang yang tidak simpatik  menunjukkna sifat-sifat yang sebaliknya.
3. Kecenderungan perilaku ekspresif
            a. Sifat suka bersaing (tidak kooperatif) dan tidak suka bersaing (suka bekerjasama)
            Orang yang  suka bersaing biasanya menganggap hubungan  sosial sebagai perlombaan, lawan adalah saingan yang harus dikalahkan, memperkaya dirisendiri. Sedangkan orang yang tidak suka bersaing menunjukkan sifat-sifatyang sebaliknya
            b. Sifat agresif dan tidak agresif
            Orang yang  agresif  biasanya suka menyerang orang lain  baik langsungataupun tidak  langsung, pendendam, menentang atau  tidak patuh  padapenguasa, suka bertengkar  dan suka menyangkal. Sifat orang yang tidak agresif menunjukkan perilaku yang sebaliknya.
            c. Sifat kalem atau tenang secara sosial
            Orang yang  kalem  biasanya  tidak nyaman jika berbeda dengan orang lain, mengalami kegugupan, malu, ragu-ragu, dan merasa terganggu jika ditontonorang.
            d.  Sifat suka pamer atau menonjolkan diri
            Orang yang suka pamer biasanya berperilaku berlebihan, suka mencari pengakuan, berperilaku aneh untuk mencari perhatian orang lain.
Keterampilan-keterampilan sosial yang perlu dimiliki anak TK adalah :
a). Kemampuan dalam menjalin hubungan dengan orang lain
            Pada awal masa bayi (kira-kira usia tiga bulan), anak sudah mulai menunjukkan keinginannya untuk berhubungan dengan orang lain, dengan “senyum sosial” yang ditunjukkannya bila ada orang yang mendekatinya. Pada saat itu sifat hubungannya dengan orang lain masih sangat terbatas, karena kemampuan reaksi dan  komunikasinya yang juga masih amat terbatas. Kemudian pada akhir masa bayi (kira-kira usia dua tahun) anak sudah mulai dapat berbicara dan memiliki beberapa puluh kosa kata, keinginan untuk menjalin hubungan antar manusia sudah lebih nyata, hal ini ditampakkan melalui sikap dan perilakunya terhadap orang-orang yang ditemuinya, terutama dengan anak-anak sebaya.
            Masuknya anak ke TK memberikan kesempatan bergaul dengan anak lain yang sebaya semakin besar. Hal ini memberikan peluang pada anak untuk lebih melancarkan dan meningkaan kemampuan berkomunikasinya. Pada usia TK anak diharapkan telah dapat menyatakan perasaan-perasaannya melalui kata-kata, bila marah pada temannya ia akan mengatakan “kamu nakal atau kamu jahat”, kalau takut sesuatu ia akan mengatakan “saya takut itu” atau kalau ia senang ia juga akan mengatakan “saya senang”. Selain dari itu, anak juga sudah mulai mampu membaca situasi yang dihadapi. Bila merebut mainan temannya, kemudian temannya cemberut dan guru memelototinya, ia tahu bahwa perilakunya itu tidak disukai oleh teman dan gurunya. Anak juga mulai dapat memilih teman yang dianggap sesuai dengan keinginannya, mulai mempunyai teman yang dianggap sesuai dengan keinginannya, mulai mempunyai teman dekat, dan menghindari teman-teman yang tidak disukainya. Pada usia ini anak juga sudah mulai dapat bermain dalam kelompok kecil yang menuntut kebersamaan dan kerjasama, mulai belajar berbagai hal dengan orang lain, belajar menunggu giliran dan lain-lain.
            Pengalaman berhubungan (bersosialisasi) dengan orang lain ini memberikan pelajaran pada anak bahwa ada perilaku-perilaku yang disukai oleh teman-teman atau gurunya yang menyebabkan ia diterima di lingkungan mereka, dan ia tahu pula bahwa ada perilaku-perilaku yang tidak disukai temannya. Dengan pengetahuannya itu anak mulai mengubah perilaku yang negatif dan mengembangkan perilakuperilaku yang positif agar hubungan dengan orang lain dapat tetap berlangsung dengan baik. Anak semakin mampu mengendalikan perasaan-perasaannya dan mengikuti aturan-aturan yang ditentukan oleh lingkungannya, untuk dapat mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain.
            Bila pengalaman awal seorang anak dalam bersosialisasi lebih banyak memberi kesenangan dan kepuasan, maka dapat diperkirakan proses sosialisasinya berkembang ke arah yang positif, tetapi sebaliknya bila tidak, hambatan dan kesulitan dalam bersosialisasi akan banyak ditemui anak.
b) Kemampuan melakukan kegiatan bermain dan menggunakan waktu luang
            Dunia anak adalah dunia bermain, khususnya pada anak prasekolah bermain merupakan kebutuhan dasar mereka. Dengan demikian wajarlah bila sebagian besar waktu anak diisi dengan kegiatan bermain. Elizabeth B. Hurlock (1978: 234) memberikan batasan tentang bermain sebagai kegiatan yang dilakukan tanpa mempertimbangkan hasil akhir, semata-mata untuk menimbulkan kesenangan dan kegembiraan saja. Biasanya anak melakukannya secara suka rela, tanpa paksaan dan tanpa ada aturan main tertentu, kecuali bila ditentukan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam permainan tersebut. Anak usia prasekolah pada umumnya senang melakukan permainan yang mengandung aktivitas gerak, seperti berlari, meloncat, memanjat dan bersepeda, tetapi ada pula anak yang tidak begitu menyukai kegiatan bermain aktif, anak demikian lebih memilih bentuk kegiatan bermain pasif yang kurang banyak merangsang aspek fisik motoriknya tetapi lebih merangsang aspek perkembangan lainnya, terutama perkembangan kognitifnya.    Kedua jenis kegiatan bermain ini baik bermain aktif maupun bermain pasifsama-sama bermanfaat bagi perkembangan anak, namun untuk memberi manfaat yang optimal dan bersifat menyeluruh bagi perkembangan anak, kedua jenis kegiatan bermain ini perlu dilakukan oleh anak secara seimbang.
c) Kemampuan anak mengatasi situasi sosial yang dihadapi
            Kemampuan anak dalam mengatasi situasi sosial yang dihadapi erat kaitannya dengan kemampuan anak dalam menjalin hubugan antar manusia. Hal ini disebabkan karena situasi sosial yang dihadapi anak, mau tidak mau melibaan orang lain sehingga pada dasarnya tidak dapat lepas dari hubungannya dengan orang lain. Salah satu yang berkaitan dengan kemampuan mengatasi situasi sosial ini, anak tidak selalu harus berhubungan secara langsung dengan orang lain. Masalah yang dihadapinya tidak berhubungan langsung dengan orang lain, tetapi berhubungan dengan situasi sosial, yaitu situasi yang diciptakan oleh orang lain. Misalnya, seorang anak TK sedang mengikuti kegiatan menggambar di kelas, yang sebenarnya tidak disukainya. Keadaan ini menimbulkan perasaan dan pengalaman yang tidak enak pada dirinya. Bila ia tidak mau melakukan kegiatan itu ia takut dihukum gurunya, tetapi bila ia mengikuti terus ia merasa sangat bosan. Mengatasi situasi semacam ini diperlukan kemampuan anak untuk mencari pemecahan masalah yang sebaikbaiknya sesuai dengan perkembangan yang telah dicapainya. Pada usia ini diharapkan anak telah menyadari tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Ia sudah harus dapat mengikuti aturan main yang ada, mengikuti tokoh otoritas yang dihadapi dan mencoba untuk mengendalikan perasaan-perasaanya dengan cara yang lebih positif.
Menurut Dini P. Daeng S (1996: 114) ada empat faktor yang berpengaruh pada kemampuan bersosialisasi anak, yaitu :
1. Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang di sekitarnya dari berbagai usia dan latar belakang.
2. Banyak dan bervariasinya pengalaman dalam bergaul dengan orang-orang di lingkungannya.
3. Adanya minat dan motivasi untuk bergaul
4. Banyaknya pengalaman yang menyenangkan yang diperoleh melalui pergaulan dan aktivitas sosialnya.
5. Adanya bimbingan dan pengajaran dari orang lain, yang biasanya menjadi “model” bagi anak.
6. Adanya bimbingan dan pengajaran yang secara sengaja diberikan oleh orang yang dapat dijadikan “model” bergaul yang baik bagi anak.
7. Adanya kemampuan berkomunikasi yang baik yang dimiliki anak.
8. Adanya kemampuan berkomunikasi yang dapat membicarakan topik yang dapat dimengerti dan menarik bagi orang lain yang menjadi lawan bicaranya.
            Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978 : 228) untuk menjadi orang yang mampu bersosialisasi memerlukan tiga proses. Masing-masing proses terpisah dan sangat berbeda satu sama lain, tetapi saling berkaitan. Kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar sosialisasinya. Ketiga proses sosialisasi tersebut adalah :
1. Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial.        Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang perilaku yang dapat diterima. Untuk dapat besosialisasi anak tidak hanya harus mengetahui perilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan perilakunya dengan patokan yang dapat diterima.
2. Memainkan peran sosial yang dapat diterima. Setiap kelompok sosial mempuyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotannya dan dituntut untuk dipatuhi. Sebagai contoh, ada peran yang telah disetujui bersama bagi orang tua dan anak serta ada pula peran yang telah disetujui bersama bagi guru dan murid. Anak dituntut untuk mampu memainkan peran-peran sosial yang diterimanya.
3. Perkembangan sikap sosial. Untuk bersosialisasi dengan baik anak-anak harus menyenangi orang dan kegiatan sosial. Jika mereka dapat melakukannya, mereka akan berhasil dalam penyesuaian sosial dan diterima sebagai anggota kelompok sosial tempat mereka bergaul.
            Menurut Helms & Turner (1984 : 225) pola perilaku sosial anak dapat dilihat dari empat dimensi, yaitu : (1) anak dapat bekerjasama (cooperating) dengan teman, (2) anak mampu menghargai (altruism) teman, baik dalam hal menghargai milik, pendapat, hasil karya teman atau kondisi-kondisi yang ada pada teman, (3) anak mampu berbagi (sharing) kepada teman. Apakah anak mampu berbagi sesuatu yang dimilikinya kepada teman, mau mengalah pada teman dan sebagainya, dan (4) anak mampu membantu (helping others) orang lain. Hal ini tidak hanya ditunjukkan dalam hubungannya dengan teman sebaya tetapi juga dengan orang dewasa lainnya. Pengaruh Kelompok Sosial Pada semua tingkatan usia, orang dipengaruhi oleh kelompok sosial dengan siapa mereka mempunyai hubungan tetap, dan merupakan tempat mereka mengidentifikasi diri. Pengaruh ini paling kuat terjadi pada masa kanak-kanak dan sebagian masa remaja akhir. Menurut Elizabeth. B. Hurlock (1978, 231), keluarga merupakan agen sosialisasi yang paling penting. Ketika anak-anak memasuki sekolah, guru mulai memasukkan pengaruh terhadap sosialisasi mereka, meskipun pengaruh teman sebaya biasanya lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh guru dan orang tua. Studi tentang perbedaan antara pengaruh teman sebaya dan pengaruh orang tua terhadap keputusan anak pada berbagai tingkatan umur menemukan bahwa dengan meningkatnya umur anak, jika nasihat yang diberikan oleh keduanya (orang tua dan teman sebaya) berbeda maka anak cenderung lebih terpengaruh oleh teman sebaya.
Interaksi Sosial Anak dengan Teman Sebaya
            Hubungan antara anak dengan teman sebaya merupakan bagian dari interaksi sosial yang dilakukan anak dengan lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakatnya. Bonner merumuskan interaksi sosial sebagai hubungan antara dua atau lebih individu di mana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya. Berdasarkan rumusan tersebut, terlihat bahwa dalam interaksi sosial terjadi hubungan timbal balik antara individu yang satu dengan individu lainnya. Teman sebaya menurut Havighurst (1978:45) dipandang sebagai suatu “kumpulan orang yang kurang lebih berusia sama yang berpikir dan bertindak bersama-sama”.
            Pada usia sekolah, anak-anak mulai keluar dari lingkungan keluarga dan memasuki dunia teman sebaya. Peristiwa ini merupakan perubahan situasi dari suasana emosional yang aman yang dalam hal ini hubungan yang erat dengan ibu dan anggota keluarga lainnya ke kehidupan dunia baru. Dalam dunia baru yang dimasuki anak, ia harus pandai menempaan diri di antara teman sebaya yang sedikit banyak akan berlomba dalam menarik perhatian guru.
            Anak-anak hendaknya belajar memperoleh kepuasan yang lebih banyak dari kehidupan sosial bersama teman sebayanya. Melalui kehidupan sosial kelompok sebaya anak belajar memberi dan menerima., belajar berteman dan bekerja yang semuanya itu dapat mengembangkan kepribadian sosial anak. Vygotsky (Berk, L.E., & Winsler, A., 1995) menekankan pentingnya konteks sosial dalam proses belajar anak. Pengalaman interaksi sosial ini sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir anak. Lebih lanjut, bahkan ia menjelaskan bahwa bentuk-bentuk aktivitas mental yang tinggi diperoleh darikonteks sosial dan budaya tempat anak berinteraksi dengan teman-temannya atau orang lain. Mengingat betapa pentingnya peran konteks sosial ini, Vygotsky menyarankan untuk memahami perkembangan anak, kita dituntut untuk memahami relasi-relasi sosial yang terjadi pada lingkungan tempat anak itu bergaul. Proses pembelajaran dalam kelompok sebaya merupakan proses pembelajaran “kepribadian sosial” yang sesungguhnya. Anak-anak belajar cara-cara mendekati orang asing, malu-malu atau berani, menjauhkan diri atau bersahabat. Ia belajar bagaimana memperlakukan teman-temannya, ia belajar apa yang disebut dengan bermain jujur. Seseorang yang telah mempelajari kebiasaan-kebiasaan sosial tersebut, cenderung akan melanjutkannya dalam seluruh kehidupannya. Pengalaman anak berinteraksi sosial dengan anak lain dan bahkan dengan orang dewasa tidak saja memfasilitasi keterampilan anak dalam berkomunikasi dan sosialnya, tetapi juga turut mengembangkan aspek-aspek perkembangan lainnya, seperti perkembangan kognisi, emosi dan moralnya. Pergaulan sosial ini merupakan pengalaman hidup yang kaya dan alami bagi anak sehingga dapat mendorong segenap aspek perkembangan anak secara lebih terintegrasi dan menyeluruh. Melalui interaksi sosial, anak dapat berlatih mengekspresikan emosinya dan menguji perilaku-perilaku moralnya secara tepat. Begitu pula pengenalan anak terhadap pola pikir orang lain dapat memperkaya pengalaman kognisinya.
            Dalam berinteraksi dengan teman sebaya, anak akan memilih anak lain yang usianya hampir sama, dan di dalam berinteraksi dengan teman sebaya lainnya, anak dituntut untuk dapat menerima teman sebayanya. Dalam penerimaan teman sebayanya anak harus mampu menerima persamaan usia, menunjukkan minat terhadap permainan, dapat menerima teman lain dari kelompok yang lain, dapat menerima jenis kelamin lain, dapat menerima keadaan fisik anak yang lain, mandiri atau dapat lepas dari orang tua atau orang dewasa lain, dan dapat menerima kelas sosial yang berbeda
            Faktor penting lainnya yang mempengaruhi perkembangan kelompok sosial ini adanya kepemimpinan sebaya (peer leadership). Dalam kelompok sosial ini seorang anak dianggap mampu memimpin apabila memiliki karakteristik-karakteristik kemampuan (intelektual) lebih, memiliki kemampuan berkuasa (uthoritarian) dan kemampuan mengendalikan (assertive) teman yang lain.



B. Contoh Pola Perilaku Sosial dan Tidak Sosial
            Pola perilaku sosial menurut Elizabeth. B. Hurlock (1978 : 239) terbagi atas dua kelompok, yaitu pola perilaku yang sosial dan pola perilaku yang tidak sosial.        Pola perilaku yang termasuk dalam perilaku sosial adalah :
1. Kerja sama.
            Sekelompok anak belajar bermain atau bekerja bersama dengan anak lain. Semakin banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu bersama-sama, semakin cepat mereka belajar melakukannya dengan bekerja sama.
2. Persaingan.
             Persaingan merupakan dorongan bagi anak-anak untuk berusaha sebaik-baiknya, hal itu akan menambah sosialisasi mereka. Jika hal itu diekspresikan dalam pertengkaran dan kesombongan, dapat mengakibaan timbulnya sosialisasi yang buruk yang dialami anak.
3. Kemurahan hati.
            Kemurahan hati, terlihat pada kesediaan untuk berbagi sesuatu dengan anak lain meningkat dan sikap mementingkan diri sendiri semakin berkurang setelah anak belajar bahwa kemurahan hati menghasilkan penerimaan sosial.
4. Hasrat akan penerimaan sosial.
             Jika hasrat pada diri anak untuk diterima kuat, hal itu mendorong anak untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial. Hasrat untuk diterima oleh orang dewasa biasanya timbul lebih awal dibandingkan dengan hasrat untuk diterima oleh teman sebaya.
5. Simpati.
            Anak kecil tidak mampu berperilaku simpati sampai mereka pernah mengalami situasi yang mirip dengan dukacita. Anak mengekspresikan simpati dengan berusaha menolong atau menghibur seseorang yang sedang bersedih.
6. Empati.
            Empati adalah kemampuan meletakkan diri sendiri dalam posisi orang lain dan menghayati pengalaman orang tersebut. Hal ini dapat berkembang pada anak jika anak dapat memahami ekspresi wajah atau maksud pembicaraan orang lain.
7. Ketergantungan.
             Ketergantungan terhadap orang lain dalam hal bantuan, perhatian, dan kasih sayang mendorong anak untuk berperilaku dalam cara yang diterima secara sosial. Anak akan berusaha menunjukkan perilaku sosial yang dapat diterima agar dapat memenuhi keinginannya.
8. Sikap ramah.
            Anak kecil memperlihaan sikap ramah melalui kesediaannya melakukan sesuatu untuk orang lain atau anak lain dan dengan mengekspresikan kasih sayang kepada mereka.
9. Sikap tidak mementingkan diri sendiri.
            Anak perlu mendapat kesempatan dan dorongan untuk membagi apa yang mereka miliki. Belajar memikirkan orang lain dan berbuat untuk orang lain.
10. Meniru.
            Dengan meniru orang yang diterima baik oleh kelompok sosial, anakanak memperoleh kesempatan untuk mengembangkan sifat dan meningkatlam penerimaan kelompok terhadap diri mereka.
11. Perilaku kelekatan (attachment behavior).
            Dari landasan yang diberikan pada masa bayi, yaitu ketika bayi mengembangkan kelekatan yang hangat dan penuh cinta kasih kepada ibu atau pengganti ibu, anak kecil mengalihkan pola perilaku ini kepada anak atau orang lain dan belajar membina persahabatan dengan mereka.
            Adapun pola perilaku yang tidak sosial adalah perilaku yang menunjukkan:
1. Negativisme.
            Negativisme adalah perlawanan terhadap tekanan dari pihak lain untuk berperilaku tertentu. Biasanya hal itu dinulai pada usia dua tahun dan mencapai puncaknya antara umur 3 dan 6 tahun. Ekspresi fisiknya mirip dengan ledakan kemarahan, tetapi secara setahap demi setahap diganti dengan penolakan lisan untuk menuruti perintah.
2. Agresi.
            Agresi adalah tindakan permusuhan yang nyata atau ancaman permusuhan. Biasanya tidak ditimbulkan oleh orang lain. Anak-anak mengekspresikan sikap agresif mereka berupa penyerangan secara fisik atau lisan terhadap pihak lain, dan biasanya terhadap anak yang lebih kecil.
3. Pertengkaran.
             Pertengkaran merupakan perselisihan pendapat yang mengandung kemarahan yang umumnya dimulai apabila seseorang melakukan penyerangan yang tidak beralasan. Pertengkaran berbeda dari agresi. Pertengkaran melibaan dua orang atau lebih sedangkan agresi merupakan tindakan dirinya sendiri. Dalam pertengkaran salah seorang yang terlibat memainkan peran bertahan sedangkan dalam agresi peran dirinya yang selalu agresif.
4. Mengejek dan menggretak.
             Mengejek merupakan serangan secara lisan terhadap orang lain, sedangkan menggretak merupakan serangan yang bersifat fisik. Dalam kedua hal tersebut si penyerang memperoleh keputusan dengan menyaksikan ketidakenakan (ketidak senangan) korban dan usahanya untuk balas dendam.
5. Perilaku yang sok kuasa.
            Perilaku ini adalah kecenderungan untuk mendominasi orang lain atau menjadi “majikan”. Jika diarahakan secara tepat hal ini dapat menjadi sifat kepemimpinan, tetapi umumnya tidak demikian, dan biasanya hal ini mengakibaan timbulnya penolakan dari kelompok sosial.
6. Egosentrisme.
            Hampir semua anak kecil bersifat egosentrik, dalam arti bahwa mereka cenderung berpikir dan berbicara tentang diri mereka sendiri. Apakah kecenderungan ini akan hilang, menetap atau akan berkembang semakin kuat, sebagian bergantung pada kesadaran anak bahwa hal itu membuat mereka tidak populer dan sebagian lagi bergantung pada kuat lemahnya keinginan mereka untuk menjadi populer.
7. Prasangka.
            Landasan prasangka terbentuk pada masa kanak-kanak awal yaitu ketika anak menyadari bahwa sebagian orang berbeda dari mereka dalam hal peampilan dan perilaku dan bahwa perbedaan ini oleh kelompok sosial dianggap sebagai tanda kerendahan. Bagi anak kecil tidaklah umum mengekspresikan prasangka dengan bersikap membedakan orang-orang yang mereka kenal.
8. Antagonisme jenis kelamin.
            Ketika masa kanak-kanak berakhir, banyak anak laki-laki ditekan oleh keluarga laki-laki dan teman sebaya untuk menghindari pergaulan dengan anak perempuan atau memainkan “permainan anak perempuan”. Mereka juga mengetahui bahwa kelompok sosial memandang lakilaki lebih tinggi derajatnya daripada anak perempuan. Walaupun demikian, pada umur ini anak laki-laki tidak melakukan pembedaan terhadap anak perempuan, tetapi menghindari mereka dan menghindari aktivitas yang dianggap sebagai aktivitas anak perempuan. 




 

peran orang tua

PERTANYAAN
1.      Ceritakan sejarah hidup anda hingga saat ini !
2.      Siapakah antara ibu dan bapak yang lebih mendominasi atau mendasari anda menjadi sosok mahasiswa sekarang ini ?
3.      Seberapa besar peran orang tua anda dalam membentuk karakter, kepribadian dan keberhasilan hidup anda hingga seperti ini ?
JAWABAN
1.      Sejarah Hidup Saya
            Nama saya Ade Irma Fatmawati, sering dipanggil Irma. “Cumit” adalah nama panggilan akrab saya dalam keluarga. Cumit sama dengan comot(Comot-comot) yang dalam bahasa jawa artinya belepotan saat habis makan. Karena saat umur enam tahun dulu saya belum bisa makan dengan rapi atau belepotan. Saya tinggal di desa Murukan, kecamatan Mojoagung kabupaten Jombang. Sebuah desa yang kaya akan kekayaan alamnya. Karena dikepung oleh bentangan luas lahan pertanian, mulai dari tanaman tebu, padi, jagung, dll. Serta sepi akan suara mobil dan cukup  jauh dari jalan raya. Dimana pada tahun 1996, TV adalah barang tersier di kala itu.
              Bapak saya bernama Muhammad hudah dan ibu saya bernama Kholilah, Bapak dan ibu menikah pada 22 Oktober 1991 kemudian melahirkan saya di Jombang tanggal 15 Oktober 1992. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adik saya bernama Mas Haqi dan Farkhan Nurul Islam. Ibu menikah dengan bapak di umur 16 tahun, sedangkan bapak 26 tahun. Ya, memang rentang usia yang cukup jauh, yaitu 10 tahun. Karena usia ibu masih belia, psikologi atau mental ibu belumlah cukup untuk menikah atau menjadi seorang ibu. Saat lulus dari SLTP, satu bulan kemudian bapak dan ibu menikah. Ibu tidak bisa menolak, karena ayah dari ibu saya(kakek saya) memiliki sifat yang tegas dank keras, semua yang kakek bilang, harus dituruti. Jika tidak kakek akan memukul. Ya, pendidikan jaman dahulu sangat keras, mungkin di zaman modern seperti sekarang masih ada orang tua yang otoriter dalam mendidik anaknya.
            Saya terlahir dari keluarga batih dan termasuk dalam kalangan masyarakat yang ekonominya menengah ke bawah. Dari segi pendidikan, saya termasuk anak yang aktif. Karena menurut cerita ibu saya, saat usia empat tahun saya yang saat itu belum sekolah tiba-tiba saja ikut teman saya ke TK tempat teman saya sekolah tanpa pendamping. Hingga ibu guru dari TK tersebut memberi tahu ibu saya lewat tetangga saya bahwa saya ke sekolah TK. Di saat itu pula ibu mendaftaarkan saya di TK Mamba’ul Ulum Murukan.
            Pada usia enam tahun saya lulus dari TK dan hendak ke sekolah jenjang selanjutnya. Saat itu saya belum bisa memilih mana sekolah yang baik untuk saya dan atas dasar apa saya memilih sekolah itu. Jadi saya ikut teman-teman saya sekolah di MI Mamba’ul Ulum. Sebuah sekolah swasta yang pembelajarannya lebih menekankan pada aspek agama islam. Namun tak lebih dari satu tahun kemudian saya pindah ke SD Murukan yaitu SD dari Desa sebelah yang ada di Dusun Mulangagung Desa Murukan. Alasan saya memilih pindah ke SD karena uang SPPnya lebih murah yaitu Rp.1.500/bulan sedangkan MI Rp. 2.500/bulan.  
            Saat kelas 3 SD, saya termasuk siswa berprestasi sehingga mendapat hadiah dari wali kelas saya yaitu Bapak Saifudin dua buah buku tulis Sinar Dunia yang masing-masing isinya setebal 75 halaman. Pada kelas 5 dan kelas 6 SD saya mendapat biasiswa atas prestasi saya di kelas. Beasiswa itu bukan melalui tes, tapi hak guru untuk memilih muridnya yang berprestasi. Masa SD adalah masa yang menyenangkan, wali kelas saya yaitu bapak Saifudin ternyata bertekad ingin mencetak generasi sukses dari angkatan saya saat itu. Terbukti dengan setiap saya naik kelas, dari kelas 3,4,5 dan 6  beliaulah yang menjadi wali kelas kami. Tapi kami tidak pernah bosan. Malahan kami bersyukur mendapat wali kelas yang sabar seperti bapak Saifudin. 
            Tahun 2006, saya masuk Sekolah Menengah Pertama di SMP Karobelah. Sekali lagi saya memilih sekolah yang di luar desa, padahal di desa Murukan sendiri ada sekolah sederajat yaitu MTS Mamba’ul Ulum. Namun karena fasilitas dan kualitas yang diberikan sekolah negeri itu sangat bagus maka saya memilih sekolah di SMP 3 Karobelah. Alhamdulillah, di SMP ini pun saya mendapat kemudahan dengan mendapat beasiswa tidak mampu sejak kelas VII hingga kelas IX. Waktu kelas IX menjelang UNAS saya mendapat 6 buku paket belajar tambahan dari bapak ibu guru karena prestasi saya di kelas. Selain saya ada juga salah seorang teman saya yaitu Winda Era Oktavia. Selain pandai dalam bidang kognitif, saya juga pandai di bidang olah raga yaitu Voly putrid. Saya bersama lima teman saya pernah menjadi juara 3 dua kali tingkat kecamatan. Prestasi lain yaitu juara satu lomba baca puisi tingkat satu sekolah saat class meeting.  Di tahun 2008, saya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan dan membawa saya ke sekolah SMA favorit di daerah Mojoagung. SMAN Mojoagung, satu-satunya SMA Negeri di daerah Mojoagung berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional).
            Di SMAN Mojoagung, sekali lagi Allah memudahkan saya dalam menggapai cita-cita. Setelah minta surat keterangan tidak mampu dari kepala desa Murukan saya          mendapat beasiswa yaitu hanya membayar setengah dari jumlah SPP kala itu, yaitu sebesar Rp. 200.000, dan saya harus membayar Rp. 100.000 tiap bulannya. Terbilang cukup mahal karena bapak saya bekerja sebagai penjual susu sapi keliling dan ibu saya hanya sebagi ibu rumah tangga. Ditambah adik saya yang pertama juga duduk di bangku SMP dan yang kedua kelas 6 MI. Di SMA ini saya masuk kelas IPA 2, kelas VIP karena hanya kelas IPA yang diberi AC. Sedangkan kelas lain tidak. Tapi ada yang berbeda, saya tidak seperti dulu. Dari 24 anak dalam satu kelas. Saya di peringkat 22. Padahal saya sudah berusaha dan belajar dengan giat. Tapi saat hasil UAS dan UNAS muncul membuat saya kaget dan tidak bisa lanjut ke perguruan tinggi dengan jalur PMDK. Sehingga saya memlih jalur SNMPTN. Waktu itu tempat penyelenggaraannya di kampus UNAIR Surabaya. Saya menunggu bapak pulang jualan susu dulu lalu berangkat ke rumah bulek saya di daerah pasar Turi.
            Tes SNMPTN di Unair berlangsung selama tiga hari, beberapa minggu kemudian hasil tesnya pun keluar. Dan saya tidak masuk ke dalam universitas yang saya harapkan. Alternative selanjutnya yaitu dengan jalur SPMB 1 universitas negeri Surabaya.
2.         Sekarang ini saya duduk di bangku kuliah semester lima Prodi S1-PAUD Universitas Negeri Surabaya(Unesa). Antara ibu dan bapak yang mendasari saya hingga seperti ini adalah bapak. Karena bapak yang lulusan SLTA memiliki tekad dan semangat yang kuat ingin menyekolahkan semua anak-anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Agar kelak bisa mudah dalam mencari pekerjaan. Sejak bangku MI, bapak hidup tanpa seorang bapak(kakek saya). Sempat tidak sekolah selama 1 tahun karena masih berkabung dan tak punya biaya untuk melanjutkan sekolah. Lalu bapak bekerja sambilan menjadi tukang bawa batu pada umurnya yang relatif muda. Setelah lulus SLTP bapak ingin melanjutkan kuliah, namun tidak mampu jadi hanya sebatas impian. Betapa pernah merasakan betapa sakitnya ingin melanjutkan kuliah namun tidak bisa. Itulah alasan kenapa bapak ingin menyekolahkan semua anaknya hingga perguruan tinggi walapun pekerjaan bapak hanya sebagai penjual susu sapi keliling.
  Sedangkan ibu lulusan SLTP berpikiran bahwa yang penting bisa mengaji, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Toh, kodrat perempuan itu 3M(Macak, Masak, Manak). Namun sebagai anak yang telah mengenyam bangku pendidikan selama 9 tahun, saya kurang sependapat dengan saran ibu. Saya lebih setuju dengan bapak. Karena wanita juga punya hak untuk memilih ingin jadi apa kelak. Saya tidak mau duduk tenang di rumah dan menunggu uang pemberian dari suami saya nanti.
  Terkadang ada perang batin pada diri saya, saat ibu melarang saya kuliah dan saat bapak ingin saya kuliah. Saya bingung, sebagai anak yang baik saya harus berpihak pada siapa untuk masa depan saya? Kalau tidak manut sama ibu saya takut masuk neraka. Beberapa hari kemudian, saya mendapat petunjuk dari sebuah acara di TV yang berbunyi “tuntutlah ilmu sampai ke negri cina” artinya bahwa saya harus belajar atau mengenyam pendidikan setinggi-tingginya agar nanti bisa jadi orang yang sukses dalam hidup.
3.          Peran ibu dan bapak sangat besar sekali bagi pembentukan karakter, kepribadian dan keberhasilan hidup saya hingga saat ini. Dari hal sederhana yaitu tanpa materi dari bapak, saya tidak akan bisa duduk di bangku sekolah, selain itu saya belajar mandiri juga karena bapak. Dari kecil bapak yang selalu menasehati saya bahwa jalan hidup seseorang selalu berbeda. Saya harus bisa mandiri dan tidak ikut-ikutan teman. Hal tersebut sekarang menjadi kenyataan, dulu saat kelas 4 SD saya memiliki 4 teman dekat. Saat lulus dari SD, kami masuk SMP yang sama. Namun waktu SMA kami berpisah, ada yang sekolah di MAN Murukan, ada yang di SMK Mojoagung, dan saya di SMAN Mojoagung. Saat lulus juga berbeda, teman saya yang sekolah di MAN setelahsetelah lulus lalu menikah. Teman saya yang di SMK MOJOAGUNG setelah lulus bekerja di Malaysia sedangkan saya memilih kuliah di UNESA jurusan PAUD
   Tanpa kasih sayang dan belaian hangat dari ibu saya sewaktu kecil, mungkin sekarang saya tidak ada. Ada hal lain yang tidak saya dapatkan dari bapak namun saya peroleh dari ibu. Salah satunya yaitu berkaitan dengan cara menjaga kebersihan dan kerapian diri. Dan masih banyak hal lain yang saya peroleh dari kedua orang tua saya.
  Karena menyangkut perasaan dan kasih sayang maka kuantitas dari besarnya peran orang tua saya tidak bisa terukur besarnya berapa. Namun saya bisa merasakan dampak positifnya hingga saya bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi negri Surabaya.


Monday, November 16, 2015

RENCANA KEGIATAN HARIAN (RKH)

Tema                           :  Kebutuhan                                                                           Hari / Tanggal             :  Senin, 22 September 2014
Sub Tema                    :  Makanan 4 sehat 5 sempurna                                               Minggu / Semester      :  VIII / I
Kelompok/Sentra        :  B2 / Kreativitas dan Bahan Alam                                        Tahun Pelajaran           :  2014-2015


INDIKATOR
KEGIATAN PEMBELAJARAN
METODE
ALAT / MEDIA / SUMBER BELAJAR
PENILAIAN
ALAT PENILAIAN
NAMA ANAK


(B.3)
Menirukan kalimat sederhana


(AM.22)
Menunjukkan perbuatan-perbuatan yang baik dan yang buruk
I.         Kegiatan Awal (09.30-10.00)

-       Menirukan kalimat macam-macam makanan


-       Bercakap-cakap kegiatan yang baik dan buruk tentang makanan 4 sehat 5 sempurna




Demonstrasi




Bercakap-cakap



Anak-anak, gambar makanan 4 sehat 5 sempurna

Anak-anak




Unjuk kerja




Percakapan



(FMH.22)
Membuat gambar dengan teknik kolase dengan memakai berbagai media (kertas, ampas kelapa, kain perca, batu-batuan, dll.)

(K.21)
Memperkirakan urutan berikutnya setelah melihat bentuk lebih dari 3 pola yang berurutan
II.      Kegiatan Inti (10.00-10.50)

-          Kolase gambar nasi dari beras






-          Meronce sedotan menjadi gantungan tas



Pemberian tugas






Pemberian tugas



Gambar nasi, beras, lem






Sedotan, benang, gambar makanan 4 sehat 5 sempurna



Hasil Karya







Hasil Karya


III.   Kegiatan Akhir (10.50-11.00)
-          Recalling
-          Salam do’a pulang






RPP PAUD

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
MODEL PEMBELAJARAN KLASIKAL
KELOMPOK                     : A
SEMESTER / MINGGU   : I / VII
TEMA / SUB TEMA         : Diri Sendiri/ Bagian Tubuh
SUB - SUB TEMA                        : Kepala
HARI / TANGGAL           : Rabu, 16 April 2014
WAKTU                             : 150 menit

A.           INDIKATOR
1.      Mulai meniru doa pendek sesuai dengan agamanya(NAM)
2.      Menyanyi lagu anak (B)
3.      Memahami cerita/dongeng(B)
4.      Menyebut bagian-bagian suatu gambar seperti gambar wajah orang, mobil,  binatang,dsb(K)
5.      Melempar dan menangkap bola(FM)
6.      Memahami perintah sederhana seperti letakkan mainan di atas meja, ambil mainan dari dalam kotak.(B)
7.      Mulai memahami hak orang lain (harus antri, menunggu giliran)(SE)

B.            TUJUAN
1.      Anak mampu meniru doa pendek sesuai dengan agamanya(NAM)
2.      Anak mampu menyanyi lagu anak (B)
3.      Anak mampu memahami cerita/dongeng(B)
4.      Anak mampu menyebutkan bagian-bagian suatu gambar seperti gambar wajah orang, mobil,  binatang,dsb(K)
5.      Anak mampu melempar dan menangkap bola(FM)
6.      Anak mampu memahami perintah sederhana seperti letakkan mainan di atas meja, ambil mainan dari dalam kotak.(B)
7.      Anak mampu mulai memahami hak orang lain (harus antri, menunggu giliran)(SE)

C.           METODE
1.             Demonstrasi
2.             Bercakap – cakap
3.             Pemberian tugas

D.           MEDIA
1.      Kertas gambar wajah, mata, telinga, hidung, mulut, alis
2.      Bola plastik
3.      Keranjang bola
1.             LANGKAH – LANGKAH
1.             KEGIATAN SEBELUM MASUK KELAS (10 menit)
Anak-anak berbaris didepan kelas dengan bernyanyi “Lonceng berbunyi”
2.             KEGIATAN AWAL ( 20 menit)
a.             Anak-anak duduk membentuk lingkaran
b.             Guru memberi salam dan menanyakan kabar kepada anak-anak
c.             Guru mengajak anak untuk berdo’a sebelum memulai kegiatan
d.            Guru mengabsen anak – anak dengan lagu “Kalau Kau Suka hati”
e.             Guru mengajak anak untuk bernyanyi lagu “kepala pundak”
f.              Guru menjelaskan tentang tema bagian-bagian tubuh
g.             Guru melakukan percakapan mengenai bagian-bagian tubuh

3.             KEGIATAN INTI (60 menit)
a               Menyebutkan bagian wajah(mata, alis, hidung, mulut, telinga), caranya :
1. Guru memegang sebuah gambar wajah yang besar
2. Guru bertanya kepada semua anak tentang bagian wajah yang ditunjuk bu guru
3. Anak satu persatu maju dan menunjuk bagian-bagian wajah dari gambar yang dipegang bu guru

b              Melempar dan menangkap bola dengan teman, caranya :
1. Anak dibagi dalam kelompok yang setiap kelompok berisi dua anak
2. Satu kelompok diberi 3 bola
3. Secara bergantian anak melemparkan bola ke teman satu kelompoknya

c               Bermain perintah sederhana memasukkan bola dalam keranjang bergantian, caranya :
1. Anak disuruh berbaris kebelakang
2. Setiap anak diberi satu bola untuk dimasukkan dalam keranjang
3. Jika bola tidak masuk anak mengulang kembali hinggga masuk

4.             ISTIRAHAT (30 menit)
a.             Setelah anak-anak menyelesaikan semua kegiatan, anak-anak diajak membereskan ruang kelas
b.             Anak – anak diajak cuci tangan
c.             Berdo’a sebelum makan
d.            Makan bekal
e.             Bermain bebas

5.             KEGIATAN PENUTUP (30 menit)
a.             Setelah bel berbunyi, anak-anak dikondisikan untuk duduk melingkar
b.             Guru bercakap-cakap tentang kegiatan yang dilakukan anak, lalu anak menceritakannya(recalling)
c.             Guru mengajak anak untuk berdo’a setelah selesai kegiatan
d.            Guru mengucapkan salam
e.             Pulang