PERTANYAAN
1.
Ceritakan sejarah hidup anda hingga saat ini !
2.
Siapakah antara ibu dan bapak yang lebih mendominasi atau mendasari anda
menjadi sosok mahasiswa sekarang ini ?
3.
Seberapa besar peran orang tua anda dalam membentuk karakter, kepribadian
dan keberhasilan hidup anda hingga seperti ini ?
JAWABAN
1. Sejarah Hidup Saya
Nama
saya Ade Irma Fatmawati, sering dipanggil Irma. “Cumit” adalah nama
panggilan akrab saya dalam keluarga. Cumit sama dengan comot(Comot-comot) yang
dalam bahasa jawa artinya belepotan saat habis makan. Karena saat umur enam
tahun dulu saya belum bisa makan dengan rapi atau belepotan. Saya tinggal di
desa Murukan, kecamatan Mojoagung kabupaten Jombang. Sebuah desa yang kaya akan
kekayaan alamnya. Karena dikepung oleh bentangan luas lahan pertanian, mulai
dari tanaman tebu, padi, jagung, dll. Serta sepi akan suara mobil dan cukup jauh dari jalan raya. Dimana pada tahun 1996,
TV adalah barang tersier di kala itu.
Bapak
saya bernama Muhammad hudah dan ibu saya bernama Kholilah, Bapak dan ibu
menikah pada 22 Oktober 1991 kemudian melahirkan saya di Jombang tanggal 15
Oktober 1992. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adik saya bernama
Mas Haqi dan Farkhan Nurul Islam. Ibu menikah dengan bapak di umur 16 tahun,
sedangkan bapak 26 tahun. Ya, memang rentang usia yang cukup jauh, yaitu 10
tahun. Karena usia ibu masih belia, psikologi atau mental ibu belumlah cukup
untuk menikah atau menjadi seorang ibu. Saat lulus dari SLTP, satu bulan
kemudian bapak dan ibu menikah. Ibu tidak bisa menolak, karena ayah dari ibu
saya(kakek saya) memiliki sifat yang tegas dank keras, semua yang kakek bilang,
harus dituruti. Jika tidak kakek akan memukul. Ya, pendidikan jaman dahulu
sangat keras, mungkin di zaman modern seperti sekarang masih ada orang tua yang
otoriter dalam mendidik anaknya.
Saya
terlahir dari keluarga batih dan termasuk dalam kalangan masyarakat yang ekonominya
menengah ke bawah. Dari segi pendidikan, saya termasuk anak yang aktif. Karena
menurut cerita ibu saya, saat usia empat tahun saya yang saat itu belum sekolah
tiba-tiba saja ikut teman saya ke TK tempat teman saya sekolah tanpa
pendamping. Hingga ibu guru dari TK tersebut memberi tahu ibu saya lewat
tetangga saya bahwa saya ke sekolah TK. Di saat itu pula ibu mendaftaarkan saya
di TK Mamba’ul Ulum Murukan.
Pada
usia enam tahun saya lulus dari TK dan hendak ke sekolah jenjang selanjutnya.
Saat itu saya belum bisa memilih mana sekolah yang baik untuk saya dan atas
dasar apa saya memilih sekolah itu. Jadi saya ikut teman-teman saya sekolah di
MI Mamba’ul Ulum. Sebuah sekolah swasta yang pembelajarannya lebih menekankan
pada aspek agama islam. Namun tak lebih dari satu tahun kemudian saya pindah ke
SD Murukan yaitu SD dari Desa sebelah yang ada di Dusun Mulangagung Desa
Murukan. Alasan saya memilih pindah ke SD karena uang SPPnya lebih murah yaitu
Rp.1.500/bulan sedangkan MI Rp. 2.500/bulan.
Saat
kelas 3 SD, saya termasuk siswa berprestasi sehingga mendapat hadiah dari wali
kelas saya yaitu Bapak Saifudin dua buah buku tulis Sinar Dunia yang
masing-masing isinya setebal 75 halaman. Pada kelas 5 dan kelas 6 SD saya
mendapat biasiswa atas prestasi saya di kelas. Beasiswa itu bukan melalui tes,
tapi hak guru untuk memilih muridnya yang berprestasi. Masa SD adalah masa yang
menyenangkan, wali kelas saya yaitu bapak Saifudin ternyata bertekad ingin
mencetak generasi sukses dari angkatan saya saat itu. Terbukti dengan setiap
saya naik kelas, dari kelas 3,4,5 dan 6
beliaulah yang menjadi wali kelas kami. Tapi kami tidak pernah bosan.
Malahan kami bersyukur mendapat wali kelas yang sabar seperti bapak
Saifudin.
Tahun
2006, saya masuk Sekolah Menengah Pertama di SMP Karobelah. Sekali lagi saya
memilih sekolah yang di luar desa, padahal di desa Murukan sendiri ada sekolah
sederajat yaitu MTS Mamba’ul Ulum. Namun karena fasilitas dan kualitas yang
diberikan sekolah negeri itu sangat bagus maka saya memilih sekolah di SMP 3
Karobelah. Alhamdulillah, di SMP ini pun saya mendapat kemudahan dengan mendapat
beasiswa tidak mampu sejak kelas VII hingga kelas IX. Waktu kelas IX menjelang
UNAS saya mendapat 6 buku paket belajar tambahan dari bapak ibu guru karena
prestasi saya di kelas. Selain saya ada juga salah seorang teman saya yaitu
Winda Era Oktavia. Selain pandai dalam bidang kognitif, saya juga pandai di
bidang olah raga yaitu Voly putrid. Saya bersama lima teman saya pernah menjadi
juara 3 dua kali tingkat kecamatan. Prestasi lain yaitu juara satu lomba baca
puisi tingkat satu sekolah saat class meeting.
Di tahun 2008, saya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan dan membawa
saya ke sekolah SMA favorit di daerah Mojoagung. SMAN Mojoagung, satu-satunya
SMA Negeri di daerah Mojoagung berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional).
Di
SMAN Mojoagung, sekali lagi Allah memudahkan saya dalam menggapai cita-cita. Setelah
minta surat keterangan tidak mampu dari kepala desa Murukan saya mendapat beasiswa yaitu hanya membayar
setengah dari jumlah SPP kala itu, yaitu sebesar Rp. 200.000, dan saya harus
membayar Rp. 100.000 tiap bulannya. Terbilang cukup mahal karena bapak saya
bekerja sebagai penjual susu sapi keliling dan ibu saya hanya sebagi ibu rumah
tangga. Ditambah adik saya yang pertama juga duduk di bangku SMP dan yang kedua
kelas 6 MI. Di SMA ini saya masuk kelas IPA 2, kelas VIP karena hanya kelas IPA
yang diberi AC. Sedangkan kelas lain tidak. Tapi ada yang berbeda, saya tidak
seperti dulu. Dari 24 anak dalam satu kelas. Saya di peringkat 22. Padahal saya
sudah berusaha dan belajar dengan giat. Tapi saat hasil UAS dan UNAS muncul
membuat saya kaget dan tidak bisa lanjut ke perguruan tinggi dengan jalur PMDK.
Sehingga saya memlih jalur SNMPTN. Waktu itu tempat penyelenggaraannya di
kampus UNAIR Surabaya. Saya menunggu bapak pulang jualan susu dulu lalu
berangkat ke rumah bulek saya di daerah pasar Turi.
Tes
SNMPTN di Unair berlangsung selama tiga hari, beberapa minggu kemudian hasil
tesnya pun keluar. Dan saya tidak masuk ke dalam universitas yang saya
harapkan. Alternative selanjutnya yaitu dengan jalur SPMB 1 universitas negeri
Surabaya.
2.
Sekarang ini saya duduk di
bangku kuliah semester lima Prodi S1-PAUD Universitas Negeri Surabaya(Unesa).
Antara ibu dan bapak yang mendasari saya hingga seperti ini adalah bapak.
Karena bapak yang lulusan SLTA memiliki tekad dan semangat yang kuat ingin
menyekolahkan semua anak-anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Agar kelak bisa
mudah dalam mencari pekerjaan. Sejak bangku MI, bapak hidup tanpa seorang bapak(kakek
saya). Sempat tidak sekolah selama 1 tahun karena masih berkabung dan tak punya
biaya untuk melanjutkan sekolah. Lalu bapak bekerja sambilan menjadi tukang
bawa batu pada umurnya yang relatif muda. Setelah lulus SLTP bapak ingin
melanjutkan kuliah, namun tidak mampu jadi hanya sebatas impian. Betapa pernah
merasakan betapa sakitnya ingin melanjutkan kuliah namun tidak bisa. Itulah
alasan kenapa bapak ingin menyekolahkan semua anaknya hingga perguruan tinggi
walapun pekerjaan bapak hanya sebagai penjual susu sapi keliling.
Sedangkan ibu
lulusan SLTP berpikiran bahwa yang penting bisa mengaji, tidak perlu sekolah
tinggi-tinggi. Toh, kodrat perempuan itu 3M(Macak, Masak, Manak). Namun sebagai
anak yang telah mengenyam bangku pendidikan selama 9 tahun, saya kurang
sependapat dengan saran ibu. Saya lebih setuju dengan bapak. Karena wanita juga
punya hak untuk memilih ingin jadi apa kelak. Saya tidak mau duduk tenang di
rumah dan menunggu uang pemberian dari suami saya nanti.
Terkadang ada
perang batin pada diri saya, saat ibu melarang saya kuliah dan saat bapak ingin
saya kuliah. Saya bingung, sebagai anak yang baik saya harus berpihak pada
siapa untuk masa depan saya? Kalau tidak manut sama ibu saya takut masuk
neraka. Beberapa hari kemudian, saya mendapat petunjuk dari sebuah acara di TV
yang berbunyi “tuntutlah ilmu sampai ke negri cina” artinya bahwa saya harus
belajar atau mengenyam pendidikan setinggi-tingginya agar nanti bisa jadi orang
yang sukses dalam hidup.
3. Peran
ibu dan bapak sangat besar sekali bagi pembentukan karakter, kepribadian dan
keberhasilan hidup saya hingga saat ini. Dari hal sederhana yaitu tanpa materi
dari bapak, saya tidak akan bisa duduk di bangku sekolah, selain itu saya
belajar mandiri juga karena bapak. Dari kecil bapak yang selalu menasehati saya
bahwa jalan hidup seseorang selalu berbeda. Saya harus bisa mandiri dan tidak
ikut-ikutan teman. Hal tersebut sekarang menjadi kenyataan, dulu saat kelas 4
SD saya memiliki 4 teman dekat. Saat lulus dari SD, kami masuk SMP yang sama.
Namun waktu SMA kami berpisah, ada yang sekolah di MAN Murukan, ada yang di SMK
Mojoagung, dan saya di SMAN Mojoagung. Saat lulus juga berbeda, teman saya yang
sekolah di MAN setelahsetelah lulus lalu menikah. Teman saya yang di SMK
MOJOAGUNG setelah lulus bekerja di Malaysia sedangkan saya memilih kuliah di
UNESA jurusan PAUD
Tanpa kasih sayang dan belaian hangat dari ibu
saya sewaktu kecil, mungkin sekarang saya tidak ada. Ada hal lain yang tidak
saya dapatkan dari bapak namun saya peroleh dari ibu. Salah satunya yaitu
berkaitan dengan cara menjaga kebersihan dan kerapian diri. Dan masih banyak
hal lain yang saya peroleh dari kedua orang tua saya.
Karena
menyangkut perasaan dan kasih sayang maka kuantitas dari besarnya peran orang
tua saya tidak bisa terukur besarnya berapa. Namun saya bisa merasakan dampak
positifnya hingga saya bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi negri
Surabaya.
No comments:
Post a Comment