Wednesday, November 18, 2015

peran orang tua

PERTANYAAN
1.      Ceritakan sejarah hidup anda hingga saat ini !
2.      Siapakah antara ibu dan bapak yang lebih mendominasi atau mendasari anda menjadi sosok mahasiswa sekarang ini ?
3.      Seberapa besar peran orang tua anda dalam membentuk karakter, kepribadian dan keberhasilan hidup anda hingga seperti ini ?
JAWABAN
1.      Sejarah Hidup Saya
            Nama saya Ade Irma Fatmawati, sering dipanggil Irma. “Cumit” adalah nama panggilan akrab saya dalam keluarga. Cumit sama dengan comot(Comot-comot) yang dalam bahasa jawa artinya belepotan saat habis makan. Karena saat umur enam tahun dulu saya belum bisa makan dengan rapi atau belepotan. Saya tinggal di desa Murukan, kecamatan Mojoagung kabupaten Jombang. Sebuah desa yang kaya akan kekayaan alamnya. Karena dikepung oleh bentangan luas lahan pertanian, mulai dari tanaman tebu, padi, jagung, dll. Serta sepi akan suara mobil dan cukup  jauh dari jalan raya. Dimana pada tahun 1996, TV adalah barang tersier di kala itu.
              Bapak saya bernama Muhammad hudah dan ibu saya bernama Kholilah, Bapak dan ibu menikah pada 22 Oktober 1991 kemudian melahirkan saya di Jombang tanggal 15 Oktober 1992. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adik saya bernama Mas Haqi dan Farkhan Nurul Islam. Ibu menikah dengan bapak di umur 16 tahun, sedangkan bapak 26 tahun. Ya, memang rentang usia yang cukup jauh, yaitu 10 tahun. Karena usia ibu masih belia, psikologi atau mental ibu belumlah cukup untuk menikah atau menjadi seorang ibu. Saat lulus dari SLTP, satu bulan kemudian bapak dan ibu menikah. Ibu tidak bisa menolak, karena ayah dari ibu saya(kakek saya) memiliki sifat yang tegas dank keras, semua yang kakek bilang, harus dituruti. Jika tidak kakek akan memukul. Ya, pendidikan jaman dahulu sangat keras, mungkin di zaman modern seperti sekarang masih ada orang tua yang otoriter dalam mendidik anaknya.
            Saya terlahir dari keluarga batih dan termasuk dalam kalangan masyarakat yang ekonominya menengah ke bawah. Dari segi pendidikan, saya termasuk anak yang aktif. Karena menurut cerita ibu saya, saat usia empat tahun saya yang saat itu belum sekolah tiba-tiba saja ikut teman saya ke TK tempat teman saya sekolah tanpa pendamping. Hingga ibu guru dari TK tersebut memberi tahu ibu saya lewat tetangga saya bahwa saya ke sekolah TK. Di saat itu pula ibu mendaftaarkan saya di TK Mamba’ul Ulum Murukan.
            Pada usia enam tahun saya lulus dari TK dan hendak ke sekolah jenjang selanjutnya. Saat itu saya belum bisa memilih mana sekolah yang baik untuk saya dan atas dasar apa saya memilih sekolah itu. Jadi saya ikut teman-teman saya sekolah di MI Mamba’ul Ulum. Sebuah sekolah swasta yang pembelajarannya lebih menekankan pada aspek agama islam. Namun tak lebih dari satu tahun kemudian saya pindah ke SD Murukan yaitu SD dari Desa sebelah yang ada di Dusun Mulangagung Desa Murukan. Alasan saya memilih pindah ke SD karena uang SPPnya lebih murah yaitu Rp.1.500/bulan sedangkan MI Rp. 2.500/bulan.  
            Saat kelas 3 SD, saya termasuk siswa berprestasi sehingga mendapat hadiah dari wali kelas saya yaitu Bapak Saifudin dua buah buku tulis Sinar Dunia yang masing-masing isinya setebal 75 halaman. Pada kelas 5 dan kelas 6 SD saya mendapat biasiswa atas prestasi saya di kelas. Beasiswa itu bukan melalui tes, tapi hak guru untuk memilih muridnya yang berprestasi. Masa SD adalah masa yang menyenangkan, wali kelas saya yaitu bapak Saifudin ternyata bertekad ingin mencetak generasi sukses dari angkatan saya saat itu. Terbukti dengan setiap saya naik kelas, dari kelas 3,4,5 dan 6  beliaulah yang menjadi wali kelas kami. Tapi kami tidak pernah bosan. Malahan kami bersyukur mendapat wali kelas yang sabar seperti bapak Saifudin. 
            Tahun 2006, saya masuk Sekolah Menengah Pertama di SMP Karobelah. Sekali lagi saya memilih sekolah yang di luar desa, padahal di desa Murukan sendiri ada sekolah sederajat yaitu MTS Mamba’ul Ulum. Namun karena fasilitas dan kualitas yang diberikan sekolah negeri itu sangat bagus maka saya memilih sekolah di SMP 3 Karobelah. Alhamdulillah, di SMP ini pun saya mendapat kemudahan dengan mendapat beasiswa tidak mampu sejak kelas VII hingga kelas IX. Waktu kelas IX menjelang UNAS saya mendapat 6 buku paket belajar tambahan dari bapak ibu guru karena prestasi saya di kelas. Selain saya ada juga salah seorang teman saya yaitu Winda Era Oktavia. Selain pandai dalam bidang kognitif, saya juga pandai di bidang olah raga yaitu Voly putrid. Saya bersama lima teman saya pernah menjadi juara 3 dua kali tingkat kecamatan. Prestasi lain yaitu juara satu lomba baca puisi tingkat satu sekolah saat class meeting.  Di tahun 2008, saya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan dan membawa saya ke sekolah SMA favorit di daerah Mojoagung. SMAN Mojoagung, satu-satunya SMA Negeri di daerah Mojoagung berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional).
            Di SMAN Mojoagung, sekali lagi Allah memudahkan saya dalam menggapai cita-cita. Setelah minta surat keterangan tidak mampu dari kepala desa Murukan saya          mendapat beasiswa yaitu hanya membayar setengah dari jumlah SPP kala itu, yaitu sebesar Rp. 200.000, dan saya harus membayar Rp. 100.000 tiap bulannya. Terbilang cukup mahal karena bapak saya bekerja sebagai penjual susu sapi keliling dan ibu saya hanya sebagi ibu rumah tangga. Ditambah adik saya yang pertama juga duduk di bangku SMP dan yang kedua kelas 6 MI. Di SMA ini saya masuk kelas IPA 2, kelas VIP karena hanya kelas IPA yang diberi AC. Sedangkan kelas lain tidak. Tapi ada yang berbeda, saya tidak seperti dulu. Dari 24 anak dalam satu kelas. Saya di peringkat 22. Padahal saya sudah berusaha dan belajar dengan giat. Tapi saat hasil UAS dan UNAS muncul membuat saya kaget dan tidak bisa lanjut ke perguruan tinggi dengan jalur PMDK. Sehingga saya memlih jalur SNMPTN. Waktu itu tempat penyelenggaraannya di kampus UNAIR Surabaya. Saya menunggu bapak pulang jualan susu dulu lalu berangkat ke rumah bulek saya di daerah pasar Turi.
            Tes SNMPTN di Unair berlangsung selama tiga hari, beberapa minggu kemudian hasil tesnya pun keluar. Dan saya tidak masuk ke dalam universitas yang saya harapkan. Alternative selanjutnya yaitu dengan jalur SPMB 1 universitas negeri Surabaya.
2.         Sekarang ini saya duduk di bangku kuliah semester lima Prodi S1-PAUD Universitas Negeri Surabaya(Unesa). Antara ibu dan bapak yang mendasari saya hingga seperti ini adalah bapak. Karena bapak yang lulusan SLTA memiliki tekad dan semangat yang kuat ingin menyekolahkan semua anak-anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Agar kelak bisa mudah dalam mencari pekerjaan. Sejak bangku MI, bapak hidup tanpa seorang bapak(kakek saya). Sempat tidak sekolah selama 1 tahun karena masih berkabung dan tak punya biaya untuk melanjutkan sekolah. Lalu bapak bekerja sambilan menjadi tukang bawa batu pada umurnya yang relatif muda. Setelah lulus SLTP bapak ingin melanjutkan kuliah, namun tidak mampu jadi hanya sebatas impian. Betapa pernah merasakan betapa sakitnya ingin melanjutkan kuliah namun tidak bisa. Itulah alasan kenapa bapak ingin menyekolahkan semua anaknya hingga perguruan tinggi walapun pekerjaan bapak hanya sebagai penjual susu sapi keliling.
  Sedangkan ibu lulusan SLTP berpikiran bahwa yang penting bisa mengaji, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Toh, kodrat perempuan itu 3M(Macak, Masak, Manak). Namun sebagai anak yang telah mengenyam bangku pendidikan selama 9 tahun, saya kurang sependapat dengan saran ibu. Saya lebih setuju dengan bapak. Karena wanita juga punya hak untuk memilih ingin jadi apa kelak. Saya tidak mau duduk tenang di rumah dan menunggu uang pemberian dari suami saya nanti.
  Terkadang ada perang batin pada diri saya, saat ibu melarang saya kuliah dan saat bapak ingin saya kuliah. Saya bingung, sebagai anak yang baik saya harus berpihak pada siapa untuk masa depan saya? Kalau tidak manut sama ibu saya takut masuk neraka. Beberapa hari kemudian, saya mendapat petunjuk dari sebuah acara di TV yang berbunyi “tuntutlah ilmu sampai ke negri cina” artinya bahwa saya harus belajar atau mengenyam pendidikan setinggi-tingginya agar nanti bisa jadi orang yang sukses dalam hidup.
3.          Peran ibu dan bapak sangat besar sekali bagi pembentukan karakter, kepribadian dan keberhasilan hidup saya hingga saat ini. Dari hal sederhana yaitu tanpa materi dari bapak, saya tidak akan bisa duduk di bangku sekolah, selain itu saya belajar mandiri juga karena bapak. Dari kecil bapak yang selalu menasehati saya bahwa jalan hidup seseorang selalu berbeda. Saya harus bisa mandiri dan tidak ikut-ikutan teman. Hal tersebut sekarang menjadi kenyataan, dulu saat kelas 4 SD saya memiliki 4 teman dekat. Saat lulus dari SD, kami masuk SMP yang sama. Namun waktu SMA kami berpisah, ada yang sekolah di MAN Murukan, ada yang di SMK Mojoagung, dan saya di SMAN Mojoagung. Saat lulus juga berbeda, teman saya yang sekolah di MAN setelahsetelah lulus lalu menikah. Teman saya yang di SMK MOJOAGUNG setelah lulus bekerja di Malaysia sedangkan saya memilih kuliah di UNESA jurusan PAUD
   Tanpa kasih sayang dan belaian hangat dari ibu saya sewaktu kecil, mungkin sekarang saya tidak ada. Ada hal lain yang tidak saya dapatkan dari bapak namun saya peroleh dari ibu. Salah satunya yaitu berkaitan dengan cara menjaga kebersihan dan kerapian diri. Dan masih banyak hal lain yang saya peroleh dari kedua orang tua saya.
  Karena menyangkut perasaan dan kasih sayang maka kuantitas dari besarnya peran orang tua saya tidak bisa terukur besarnya berapa. Namun saya bisa merasakan dampak positifnya hingga saya bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi negri Surabaya.


No comments:

Post a Comment