Sunday, November 15, 2015

TOKOH PAUD

TUGAS MATA KULIAH KONSEP DASAR PAUD
TEMA :
MAKALAH
“Pemikiran Tokoh dan Pakar Pendidikan Anak Usia Dini ”
( Kelompok 4 )
UNESA COLOR Logo.jpeg
Disusun oleh:
1.Galuh Dwi Bramastiningrum ( 111684049 )
2.Ade Irma Fatmawati              ( 111684208 )
3.Aprilia Dwi Fitriani              ( 111684215 )
4.Nosha Putri Sekar Arum     ( 111684204 )
5.Novanti Dwi Aryani             ( 111684221 )
6. Larassathy Tri N.H            ( 081684051 )

PRODI S1  PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2011

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat,taufik serta hidayah-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Pemikiran Tokoh dan Pakar Pendidikan Anak Usia Dini”. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi yang membaca dan  menambah pengetahuan.
            Pada kesempatan yang baik ini penulis turut mengucapkan rasa terima kasih kepada:
  1. Dra.Gunarti Dewi L.,M.Si , selaku dosen mata kuliah Pendidikan Agama Islam
  2. Serta semua pihak yang telah membantu atas terselesaikannya tugas makalah ini

            Namun penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran-saran yang membangun dari semua pihak. Semoga pembahasan tugas makalah ini bermanfaat bagi kami dan semua pihak yang membaca makalah ini.


Surabaya, Oktober  2011                   

                                                                        Penulis  

ii
I. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang :
Proses pendidikan dan pembelajaran pada anak usia dini hendaknya dilakukan dengan tujuan memberikan konsep-konsep dasar yang memiliki kebermaknaan melalui pengalaman yang nyata sehingga anak dapat memperoleh pengetahuan baru untuk mewujudkan kreatifitas dan rasa ingin tahu secara optimal, selain itu juga menghasilkan anak yang memiliki budi pekerti yang luhur bukan hanya cerdas otaknya saja tetapi juga cerdas dalam berperilaku.
            Anak usia dini adalah pribadi yang memiliki sejumlah potensi yang perlu dikembangkan, selain itu anak tidak hanya sebagai makhluk individu akan tetapi harus dipandang sebagai anggota masyarakat. Pendidikan pada anak harus didasarkan pada psikologi dan sesuai dengan perkembangan fisik, mental dan memori.
            Anak harus belajar sesuai dengan taraf kematangannya tanpa paksaan untuk menyesuaikan atau menjadi sama dengan anak lain tetapi tetap dengan pengawasan orang tua. Kepercayaan diri pada anak dapat berkembang bila ia berhasil melakukan apa yang dia suka tetapi masih dalam perilaku posif. Lebih pesat lagi perkembangan kepercayaan dirinya, apabila orang tuanya memberikan sanjungan atau pujian pada kebaikan yang dilakukan anak.
            Pengelompokan pada anka sesuai dengan tingkatan umurnya mempermudah anak dalam memperoleh pendidikan. Selain itu, tingkat kesehatan anak juga perlu diperhatikan. Anak dalam keadaan cacat mental hendaknya disediakan kelas sendiri dan dikelompokan pada kelas yang memerlukan kebutuhan khusus dalam proses pembelajarannya.
            Setiap Anak Usia Dini memiliki perbedaan dalam segi karakteristik, kejiwaan (kesehatan) dan umur (tingkatan). Kemudian para pakar pendidikan anak usia dini baik di dalam negeri maupun di luar negeri berusaha mempelajari hal tersebut dan menemukan gagasan-gagasan yang tepat mengenai proses pembelajaran Anak Usia Dini berdasarkan perbedaan karakteristik, kejiwaan dan umurnya.
            Oleh karena itu mempelajari dan mengkaji latar belakang dari pemikiran berbagai tokoh pendidikan baik di dalam negeri maupun luar negeri perlu dilakukan.
1
I.2  Rumusan Masalah :
1. Siapa saja tokoh dan pakar Pendidikan Anak Usia Dini ?
2. Apa yang melatar belakangi para tokoh sehingga peduli terhadap Pendidikan Anak Usia Dini ?
3. Bagaimana implementasi yang mereka terapkan dalam pembelajaran Anak Usia Dini ?

1.3  Tujuan :
1. Mengetahui tokoh dan pakar Pendidikan Anak Usia Dini
2. Mengetahui latar belakang atau pendapat para tokoh tentang Pendidikan Anak Usia Dini sehingga bisa peduli terhadap pendidikan Anak Usia Dini
3. Mengetahui implementasi para tokoh yang telah diterapkan dalam proses Pendidikan Anak Usia Dini
















2
II. PEMBAHASAN

2.1 Sejumlah Tokoh dan Pakar Tentang Pendidikan Anak Usia Dini Dari Masa ke Masa :

1.  Johann Heinrich Pestalozzi

Seorang ahli pendidikan Switzerland pada tahun 1747-1827. Peztalozzi mendirikan sebuah sekolah di tanah pertaniannya dengan nama “ Neuhof ”. Di Neuhof Pestalozzi mengembangkan ide tentang keterpaduan anatara kehidupan rumah tangga, pendidikan pertanian dan kejuruan.

Pendidikan yang diberikan pada anak didiknya antara lain:
-        Pendidikan harus didasarkan pada psikologi anak
-        Anak berkembang secara fisik, mental dan moral melalui pengalaman
-        Pengalaman harus meliputi pesan yang menyenangkan.
-        Guru harus mempertimbangkan hal-hal ynag disenangi anak\
-        Disiplin diperlukan tapi harus bersifat membangun bukan membangun

Teori Audio Visual (AVM)
            Teori ini mengandung intisari bahwa AVM dapat mengembangkan potensi lain seperti daya imajinasi, kreatifitas, bakat dan minat dari seorang anak, karena melalui pengembangan :
Auditory : Anak dapat mengoptimalkan pendengaran.
Visual : Anak dapat menggunakan penglihatan dengan baik.
Memory : anak dapat menggunakan dan melatih ingatan dengan baik.



3

Konsep dalam Mengasuh, Membimbing dan Mendidik.
Perlu memperhatikan 5 konsep dalam mengasuh, membimbing dan mendidik anak, yaitu:
-       Heart
-       Hand
-       Health
-       Head
-       Harmonis
Menurut Pestalozzi anak adalah pribadi yang memiliki sejumlah potensi yang perlu dikembangkan. Anak seharusnya tidak hanya dipandang sebagai makhluk individu tapi juga haruz dipandang sebagai makhluk sosial juga karena anak setidaknya sudah mulai belajar untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.
Tujuan dari pendidikan adalah membimbing anak menjadi orang yang baik dengan jalan mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri anak.

Contoh implementasi teori AVM dalam pembelajaran anak usia dini pada berbagai lembaga, yaitu:
Di Play Group
a.       Melalui konsep pendengaran ( Auditory )
٭ Cara : Memberikan alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian.
b.      Melalui konsep penglihatan ( Visual )
٭ Cara : Melalui pemberian warna-warna yang menarik didalam kelas dan dikamar anak.
c.     Konsep Ingatan ( Memory )
٭ Cara : Melalui konsep bercerita sederhana, singkat, aktual, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak.
Di Taman Kanak-kanak ( Usia 3-6 tahun )
a.     Konsep Pendengaran ( Auditory )
             Cara : Guru dan anak bertepuk tangan sebelum melakukan kegiatan.
b.    Konsep Penglihatan ( Visual )
٭ Cara : Letakkan kaca didepan kelas agar anak dapat melihat dirinya sendiri.
c.     Konsep Ingatan ( Memory )
٭ Guru menyebutkan nama-nama bulan dengan melihat kalender, kemudian anak diminta untuk menyebutkan kembali nama bulan tersebut.
4
Di Sekolah Dasar ( 6-8 tahun )
a.     Konsep Pendengaran ( Auditory )
٭ Cara : Dengan cara bermain dengan botol diisi berbagai macam isi, misal: kerikil, pasir, kelereng dll.
b.    Konsep Penglihatan ( Visual )
٭ Cara :  Dengan gaya pantomim anak dapat melihat dan mengikuti gaya yang diperagakan guru.
c.     Konsep Ingatan ( Memory )
٭ Cara : Melalui kegiatan menari anak akan mendengarkan musik dan melihat gerakannya.

2.  Jan Lighthart

Ia adalah seorang kepala sekolah menengah di Den Haag Belanda dan dilahirkan di Amsterdam. Tujuan pendidikan yang diterapkan oleh Lighthart adalah menghasilkan manusia (anak) yang memiliki budi pekerti yang luhur, bukan hanya cerdas dan terdidik otaknya saja tetapi juga cerdas dalam berperilaku.
Tujuan pendidikan keluarga merupakan dasar bagi pendidikan selanjutnya dimana peran utama dipegang oleh seorang ibu.

5 langkah pembelajaran menurut Jan Lighthart. yaitu :
1.    Menentukan sesuatu yang menjadi pusat minat anak.
2.    Melakukan study wisata.
3.    Pembahasan hasil pengamatan.
4.    Menceritakan lingkungan yang dialami.
5.    Kegiatan ekspresi.



5
Contoh implementasi dalam pembelajaran :
Usia
Kegiatan
Metode
Bahan
2 – 3 tahun
Mengenal tanaman
Praktik  langsung
Tanaman sekitar lingkungan, alat untuk menyiram dan air
3 - 6 tahun
Mengenal biji kacang hijau
Praktik  langsung
Wadah kecil, kapas, biji kacang hijau. Air
6 – 8 tahun
Berkebun
Praktik  langsung
Lahan kosong sekitar lingkungan, biji-bijian

3.     William H. Kilpatrick


Beliau adalah seorang ahli pendidikan Amerika dan ahli filsafat pendidikan yang dilahirkan di Georgia, Amerika Serikat. Ia juga terkenal dengan “Profesor Milion Dollar” karena pendapatan yang diperoleh dari kelasnya sangat terkenal.

 Pembelajaran proyek ini merupakan salah satu model pembelajaran yang dinamis serta bersifat fleksibel yang sangat membantu anak memahami berbagai pengetahuan secara logis, konkret dan aktif.

Pembelajaran Proyek yang diterapkan oleh Kilpatrick :

a.    Pembelajaran Proyek Total
Pembelajaran proyek total dimaksudkan untuk mengintregasikan aspek pengembangan, baik kognitif, ketrampilan, jasmani, motorik kasar dan motorik halus. Bentuk pembelajaran proyek total digambarkan sebagai berikut:

Rounded Rectangular Callout: Tema  :   Telekomunikasi
Bahasa   :   Tanya jawab macam-macam telekomunikasi
Kognitif  :   Menghitung jumlah alat komunikasi
Jasmani  :   Lomba mencari gambar alat-alat telekomunikasi
Ketrampilan  :   membuat alat komunikasi dengan karton
                                                                                                                          



6
b.    Pembelajaran Proyek Parsial
Dalam bentuk ini terdapat penggabungan antara bidang studi/pengembangan yang berdiri sendiri dengan bidang studi yang saling berhubungan. Bidang studi yang berdiri sendiri diberikan dengan model pembelajaran yang lama ( biasa ), sedangkan bidang studi yang saling berhubungan diberikan dengan bentuk proyek

c.    Pembelajaran Proyek Okasional
Dalam mendisain pembelajaran proyek harus ditentukan secara jelas pusat minat sebagai tema atau pokok masalah yang akan dikembangkan. Berdasarkan tema ini bidang studi yang lainnya. Proyak okasional dapat dilaksanakan satu bulan sekali, pertengahan semester atau satu semester sekali. Anak dibelajari untuk mengenal lingkungan hidupnya, misal dapart dimulai dari tema tema keluarga, rumah, teman bermain, sekolah, saluran air, tanah, tanaman dan sebagainya

Langkah pembelajaran proyek dilaksanakan dengan menggunakan 5 langkah, yaitu :
1.    Langkah Persiapan
2.    Kegiatan Pembelajaran : Pendahuluan
3.    Perjalanan Study Wisata atau Survai
4.    Kegiatan Pembelajaran : Pengolahan Masalah
5.    Penyelenggaraan Kegiatan Pameran

4. Maria Montessori

Maria Montessori  lahir di Chiaravalle, Italia pada tahun 1896 . Dia sangat berminat terhadap masalah pendidikan anak yang tergolong terbelakang . Montessori membuat sekolah pertamanya di Roma ( di derah kumuh ) tahun 1907, yang disebut “casa dei bambini“ yang artinya rumah anak . Sekolah tersebut dipersiapkan untuk anak cacat mental .

7
a.                Pandangan Montessori tentang anak usia dini:
1.               Mereka terus menerus berada dalam keadaan pertumbuhan dan perubahan yang dipengaruhi oleh lingkungan
2.               Mereka senang sekali belajar,  selalu ingin tahu dan mencoba
3.               Mereka memiliki kemampuan yang besar untuk menyerap berbagai pengalaman sejak lahir sampai umur 6 tahun
4.               Mereka belajar melalui gerakan,  bereksplorasi,  dan belajar melalui alat inderanya
5.               Mereka melewati masa yang yang mudah dalam belajar,  disebut periode sensitive untuk belajar

b.               Implementasi dalam pembelajaran anak usia dini
·         Contoh 1 :
Belajar membaca menggantungkan kertas bertuliskan nama-nama benda, contoh implementasinya yaitu dibawah jendela digantungkan kertas bertuliskan jendela kemudian anak akan melihat hubungan benda dengan katanya .
·         Contoh 2 :
Anak diberi kertas yang berisi perbuatan atau suruhan yang harus dikerjakan anak . Misal : “bersihkan lantai” setelah terlihat anak semakin mampu membaca kalimat sederhana,  maka pendidik selanjutnya dapat memperpanjang struktur kalimat yang diberikan pada anak .
5.  Frederich Wilhelm Froebel
Frederich Wilhelm Froebel lahir di Jerman dikenal sebagai “The Founding Father“ karena menghasilkan suatu system disebut “Garden of Children“ atau “Kinder garten” yang berarti taman atau kebun milik anak . Di Indonesia diterjemahkan menjadi Taman Kanak-kanak .
a.       Terdapat 3 (tiga) prinsip didaktik yang dikemukakan oleh Froebel, yaitu :
1.      Otoaktivitas, kegiatan yang dilakukan anak sendiri/bersifat individualisasi
8
2.               Kebebasan, tidak dibatasi dinding massif, perlu linkungan terbuka
3.      Pengamatan, terhadap alam sekitar melalui eksplorasi dan keingintahuan
b.      Unsur 3F menurut Froebel :
1.      Fridge (perdamaian) dalam pergaulan anak, pendidik dan orang disekitar
2.      Frevde (kegembiraan) selama proses pembelajaran
3.      Frabeit (kemerdekaan) adanya kebebasan dalam situasi dan kondisi “iklim” pendidikan yang kondusif
Penerapan Pandangan Froebel
Pelaksanaan pembelajaran pada anak usia dini dianggap baik, apabila :
1.      Hendaknya menyiapkan lingkungan yang dapat mendorong proses belajar melalui kegiatan eksplorasi dan penemuan
2.      Orangtua dan guru sebaiknya bekerja sama dalam mendukung anak memperoleh pengalaman
3.      Anak diberi kesempatan untuk mendapat pengetahuan dan kegiatan yang lebih kompleks
4.      Anak belajar menyukai buku dan mampu berbahasa dengan caranya sendirri melalui aktivitas bercerita
Froebel berpendapat bahwa terdapat 3 (tiga) prinsip yang perlu diperhatikan dalam pendidikan anak usia dini :
1.      The Gifts, adalah sejumlah beda yang dapat diraba dan dimainkan oleh anak-anak dengan cara-cara tertentu
2.      The Occupation, adalah serangkaian kegiatan yang memberikan kesempatan pada anak untuk berekspresi artistic
3.      The Mothers play, adalah lagu-lagu dan permainan atau games yang dirancang khususuntuk kegiatan social dan pengalaman anak terhadap alam sekitarnya

9
 

 


6. Helen Parkhurst
 Helen Parkhurst lahir di Amerika, ia mengibaratkan kelasnya seperti laboratorium anak-anak, sehingga ia menamakannya “Laboratory Plan” . Helen pernah belajar di sekolah Montessoridi Italia . Menurut anggapannya, Montessori terlalu menekankan pembelajaran individual sehingga anak-anak kurang bersosialisasi . Selain itu banyak alat-alat pembelajaran yang dilakukan secara kaku dan monoton . Kemudian Helen mencoba konsep pendidikannya untuk anak cacat disekolah menengah di Kota Dalton .  Yang diberi nama “The Dalton Plan” .

Implikasi Model Pendidikan Dalton
Ruangan kelas sama halnya dengan kelas Montessori dimana adanya ruang kelas yang luas untuk memberikan pembelajaran klasikal . Kelas ini dibagi menjadi kelas-kelas kecil yang disebut sentra atau vak. Model pendidikan Dalton memberikan pelayanan seimbang antara bentuk pembelajaran klasikal dan individual .



10
Gambar denah ruang pembelajaran menurut Dalton
Text Box: Sentra 
Balok
Text Box: Sentra
Persiapan
Text Box: Sentra
Imtaq
Oval: Klasikal
Text Box: Sentra
Bahan Alam
Text Box: Sentra
Main Peran
Text Box: Sentra
Musik dan Gerak
 












Penataan ruang kelas dapat disesuaikan dengan keadaan sekolah dan ukuran ruangan .
Pendidik ‘ Guru Vak’
1.      Haruslah ahli dan mencintai vak bidang studi masing-masing
2.      Harus kompetensi dalam member penjelasan pada anak sesuai dengan topic yang dibahas
3.      Harus memperhatikan dan mengamati pekerjaan tiap anak, menanyakan kesulitan yang dialami dan membimbing anak hingga benar-benar paham
4.      Memberikan arahan kepada anak ketika menggunakan berbagai alat untuk mengkaji suatu bahan tertentu
5.      Mengetahui perkembangan setiap anak dalam mengerjakan berbagai tugas
Proses Pembelajaran
1.      Penyambutan anak
2.      Main pembukaan (pengalaman gerakan kasar)
3.      Kegiatan kelompok disetiap sentra
4.      Makan bekal bersama
5.      Kegiatan penutup
11
7. Lev Vygotsky
            Lev Vygotsky di kenal sebagai a sosialcultural constructivist asal Rusia. Vygotsky dalam Brodova dan Deborah (1996:23) berpendapat bahwa pengetahuan tidak diperoleh dengan cara dialihkan dari rang lain, melainkan merupakan sesuatu yang dibangun dan diciptakan oleh anak. Vygotsky yakin bahwa belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dipaksa dari luar karena anak adalah pembelajar aktif dan memiliki struktur psikologis yang mengendalikan perilaku belajarnya (Brodova dan Deborah, 1996:23).
            Selanjutnya melalui teori revolusi sosio kulturalnya, Vygotsky mengemukakan bahwa manusia memiliki alat berpikir (tool of mind) yang dapat dipergunakan untuk membantu memecahkan masalah, memudahkan dalam melakukan tindakan, memperluas kemampuan, melakukan sesuatu sesuai kapasitas alami (Brodova dan Deborah, 1996:26). Vygotsky mengemukakan beberapa kegunaan alat berpikir manusia yaitu :
·         Membantu memecahkan masalah, seseorang akan mampu mencari jalan keluar terhadap masalah yang dihadapinya. Anak-anak akan mencoba memecahkan masalah dalam permainan yang sedang dikerjakan (mencari jejak).
·         Memudahkan dalam melakukan tindakan, dengan alat berpikirnya, setiap individu akan dapat memilih tindakan atau perbuatan seefektif dan seefisien mungkin dalam mencapai tujuan itu merupakan cerminan dari berfungsinya alat berfikir.
·         Memperluas kemampuan, melalui berbagai eksporasi yang dilakukan seorang anak melalui panca inderanya, maka akan banyak hal yang ia ketahui
·         Melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitas alaminya, alat berpikir berkembang secara alami, mengikuti apa yang terjadi disekitarnya. Semakin banyak stimulasi yang diperoleh anak saat berinteraksi dengan lingkungannya, maka akan semakin cepat berkembang fungsi pikirnya.
12
Prinsip dasar teori Vygotsky adalah bahwa anak melakukan proses ko-konstruksi membangun berbagai pengetauannya tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dimana anak tersebut berada. Pengetahuan juga berasal dari lingkungan budaya. Pengetahuan yang berasal dari budaya biasanya didapatkan secara turun-temurun melalui orang-orang yang berada disekitar. Pengetahuan dibangun oleh anak berdasarkan kemampuannya dalam memahami perbedaan berdasarkan persamaan yang tampak.
Teori Vygotsky lebih tepat disebut sebagai pendekatan ko-konstruktivisme yaitu suatu proses membangun pengetahuan baru saja bersama-sama antara semua pihak yang terlibat didalamnya. Vygotsky percaya bahwa kognitif tertinggi yang berkembang saat anak berada disekolah yaitu saat terjadinya interaksi antara anak dan guru.
Menurut Vygotsky, bantuan eksternal yang diberikan guru dapat dihilangkan apabila anak tampak telah berkembang secara konsisten. Bantuan dapat diberikan pada saat anak beraktivitas atau mengerjakan tugas, seperti :
1)      Memotivasi atau mendapatkan minat anak yang berhubungan dengan tugas.
2)      Mempermudah tugas agar anak-anak mudah mengatur dan menyelesaikannya.
3)      Memberikan beberapa arahan dengan tujuan membantu anak membantu anak agar fokus dalam mencapai tujuannya.
4)      Mengurangi frustasi serta resiko
5)      Memberi contoh dengan jelas serta menetapakan harapan dari aktivitas yang ditampilkan (Stuyf,2007:3-5).
Terdapat 4 (empat) tahapan zona proximal development (ZPD), yaitu :
1)      Tindakan anak masi dipengaruhi oleh orang lain
2)      Tindakan anak didasarkan atas inisiatif sendiri
3)      Tindakan anak berkembang spontan dan terinternalisasi
4)      Tindakan spontan yang diulang-ulang sehingga anak siap berpikir abstrak
Penerapan teori konstruktivisme dalam program kegiatan bermain pada anak usia dini haruslah memperhatikan hal-hal berikut :
1)      Anak hendaknya memperoleh kesempatan luas dalam kegiatan pembelajaran guna mengembangkan potensinya
2)      Pembelajaran pada anak usia dini hendaknya dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensial daripada perkembangan aktualnya
3)      Program kegiatan bermain lebih diarahkan pada penggunaan strategi
13
4)      Anak diberikan kesempatan yan luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajari dengan pengetahuan prosedural untuk melakukan tuags-tugas dan memecahkan masalah
5)      Proses belajar dan pembelajaran tidak sekedar bersifat transferal tetapi lebih merupakan ko-konstruksi. peran guru anak usia dini dalam hal ini adalah membantu pertumbuhan dan perkembangan anak dengan caraterbaik dengan membangun minat, kebutuhan, dan kelebihan-kelebihan yang ada pada setiap anak
Vygotsky memandang bermain sebagai kegiatan sosial. Pada awalnya anak-anak bermain secara solitary (secara sendiri-sendiri), seiring dengan kematangan kognitif anak dan berkurangnya egosenris, permaianan anak menjadi lebih sosial.


Cara Belajar Anak Usia Dini
Berhubungan dengan proses pembentukan pengetahuan, Vygotsky mengemukakan konsep Zone of Proximal Development (ZPD), hukum genetik tentang perkembangan dan mediasi.
1)      Hukum genetik tentang perkembangan (Genetic Law of Development)
Kemampuan seseorang untuk tumbuh dan berkembang melewati 2 tatanan, yaitu tatanan sosial tempat orang-orang membentuk lingkungan sosialnya dan tatanan psikologis di dalam diri orang yang bersankutan.
Lingkungan sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang. Sedangkan tatanan psikologis sebagai keturunan yang tumbuh melalui penguasaan terhadap proses-proses sosial tersebut.
2)      Mediasi
Mediasi adalah tanda, lambang, dan bahasa mediator yang berasal dari lingkungan sosiokulural dimana seseorang berada. Tanda, lambang, dan bahasa merupakan penghubung antara rasionalitas sosiokultural (Intermental) dengan individu sebagai tempat berlangsungnya proses belajar. Sebagai mediator, bahasa sangat penting dalam perkembangan kognisi anak. Bahasa dapat menjadikan anak berimajinasi, memanipulasi, menciptakan gagasan baru dan membagi gagasan tersebut dengan orang lain.
14
Implementasi Model Pembelajaran Vygotsky
            Kegiatan pembelajaran berdasarkan teori belajar Vygotsky antara lain :
·         Menyusun balok
Diharapkan anak dapat membangun imajinasinya tentang bentuk dan ruang memanipulasi bangunan dari balok-balok yang telah tersedia.
·         Menyampaikan cerita
Biasanya memberikan keuntungan dalam mengembangkan bahasa dan kreatifitasnya. Vygotsky juga menggunakan hal itu untuk mendorong perkembangan ketajaman ingatan, berpikir logis, dan pengendalian diri.
·         Permainan dramatik
Merupakan suatu kegiatan mengungkapkan seluruh fungsi mental tinggi, pengendalian diri, dan berbagai fungsi simbolik.
·         Penulisan jurnal
Anak melakukan komunikasi dengan orang lain melalui berbagai ungkapan secara tertulis.
8. Sarah Smilansky
            Adalah seorang guru besar di Tel Aviv, University Israel. Smilansky peduli terhadap psiologi anak dan mengemukakan tentang mengembangkan kognitif anak melalui permainan. Diyakini melalui permainan dan pengalaman nyata membuat anak mempunyai imajinasi.
            Smilansky dalam Dockett dan Fleer (1999:59) percaya bahwa anak usia dini merupakan hal yang sangat fundamental dalam memberikan kerangka terbentuknya perkembangan dasar-dasar pengetahuan, sikap, dan keterampilan pada anak. Proses pembelajaran terhadap anak usia dini hendaknya dilakukan dengan tujuan memberikan konsep-konsep dasar yang memiliki kebermaknaan melalui pengalaman yang nyata, sehingga anak dapat memperoleh pengetahuan baru untuk menunjukkan kreativitas dan rasa ingin tahu secara optimal.
            Pada rentang usia ini anak akan mengalami masa keemasan (Golden Age) di mana anak mulai peka terhadap diri dan lingkungannya dengan melalui stimulasi yang diberikan. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, efektif, psikomotorik, bahasa, sosio emosional dan spiritual.
Pandangan Smilansky
Menurut Smilansky, setiap anak harus mengalami pengalaman main yang banyak. Anak usia dini belajar melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungan.
15
Kebutuhan sensomotor anak di dukung ketika disediakan tempat untuk berhubungan luas atau di dalam ruangan. Untuk itu, berikan kesempatan untuk bergerak secara bebas di halaman, atau di meja dan di kursi. Kebutuhan sensori motor anak di dukung bila lingkungan baik dalam maupun di luar ruangan menyediakan kesempatan untuk berhubungan dengan banyak tekstur dan berbagai jenis bahan bermain yang berbeda yang mendukung setiap kebutuhan perkembangan anak.
Piaget dan Smilansky dalam Dockett dan Fleer (1999:59-60) mengemukakan tahapan bermain pada anak usia dini, sebagai berikut :
1.      Bermain Fungsional (Fungcional Play)
Bermain seperti ini berupa gerakan yang bersifat sederhana dan berulang-ulang contohnya : berlari-lari, mendorong dan menarik mobil-mobilan.
2.      Bermain Membangun (Constructive Play)
Kegiatan bermain ini untuk membentuk sesuatu, menciptakan bangunan dengan alat permainan yang tersedia contohnya : menyusun puzzle, lego atau balok kayu.
3.      Bermain Pura-pura (Make-belive Play)
Anak menirukan kegiatan orang yang dijumpainya sehari-hari atau berperan/memainkan tokoh-tokoh dalam film kartun atau dongeng.
Yang dimaksud bermain pura-pura dan aplikasinya dalam teori Smilansky adalah Dramatic Play, di mana anak melakukan peran imajinatif atau memerankan tokoh yang dikenalnya melalui film/dongeng/cerita lebih ditekankan pada bermain makro. Contoh : dokter-dokteran, polisi-polisian, atau meniru tukang bakso.
4.      Bermain dengan Peraturan (Game with Rules)
Dalam kegiatan ini, anak sudah memahami dan bersedia memauhi peraturan permainan. Aturan permainan pada awalnya dapat dan boleh diubah sesuai kesepakatan orang yang terlibat dalam permainan asalkan tidak menyimpang jauh dari aturan umumnya, msalkan bermain kartu domino, bermain tali atau monopoli.
            Khusus tentang Dramatic Play, Smilansky meyakini bahwa bermain melalui Dramatic Play sangat pentig dalam mengembangkan kreativitas, intelektual, bahasa dan keterampilan sosial dan emosional. Tidak semua anak memiliki pengalaman Dramatic Play. Pada intinya bermain sangat mendukung perkembangan kognitif anak, sosial dan emosionalnya dan juga merupakan kegiatan yang sangat kondusif semua aspek perkembangan anak. Melalui Dramatic Play, anak dapat mengembangkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah, belajar menampilkan peran yang dapat diterima lingkungannya dan juga keterampilan bersosialisasi agar kelak mampu menyesuaikan diri degan kelompok sosial dimasyarakat maupun teman sebayanya.
16
9. Jean Piaget
            Jean Piaget adalah seorang ilmuan yang dilahirkan di Neuchatel, Swiss. Piaget merupakan anak yang jenius, artikel pertamanya terbit pada usia 12 tahun. Pada usia 18 tahun meraih gelar sarjana dan mendapatkan gelar doktor di usia 21. Piaget adalah seorang ahli dalam bidang biologi dan yang kemudian tertarik terhadap cara berpikir anak.
            Piaget dalam Suparno (2003:20) bependapat bahwa anak perlu diberikan berbagai pertanyaan untuk meningkatkan kemampuan berpikirnya. Piaget melakukan penelitian longitudinal melalui pengamatan tentang perkembangan intelektual pada ketiga anaknya. Pada tahap selanjutnya Piaget juga melakukan riset pada ribuan anak lainnya.
            Menurut pandangan Piaget, intelegensi anak berkembang melalui suatu proses active learning. Para pendidik hendaknya mengimplementasikan active learning dengan cara memberikan kesempatan kepada anak untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan yang dapat mengoptimalkan penggunaan seluruh panca indera anak.
Pemahaman tentang Anak Usia Dini
            Ketika Piaget bekerja sama dengan Binet dalam pengembangan tes untuk mengukur intelegensi, ia sangat tertarik dengan jawaban salah yang diberikan seorang anakdalam tes yang diberikan kepada mereka, sehingga ia ingin tahu dan menelitilebih lanjut apa yang ada dibelakang pemikiran anak terhadap jawaban salah tersebut.
17
Anak bermain dan berpikir aktif dalam mengembangkan kognitif mereka.
·         Kegiatan mental dan berpikir sangat penting untuk mengembangkan kegiatan anak.
·         Pengalaman-pengalaman sebagai bahan mentah untuk mengembangkan struktur mental anak.
·         Anak berkembang melalui interaksinya dalam lingkungan.
·         Perkembangan terjadi sebagai hasil dari kematangan dan interaksi antara anak, lingkungan fisik dan sosial anak.
Disamping itu, Piaget mengemukakan tentang konsep dasar yang dapat mendukung perkembangan anak, yaitu :
1)      Semua orang membutuhkan belajar bagaimana membaca dan menulis.
2)      Anak belajar dengan baik menggunakan panca inderanya.
3)      Semua anak dapat dididik.
4)      Semua anak harus dididik untuk memaksimalkan kemampuannya.
5)      Pendidikan harus dimulai sejak dini.
6)      Anak harus dipaksa untuk belajar, tetapi harus sesuai dengan kesiapan belajar menekan dan harus mempersiapkan tahap selanjutnya.
7)      Kegiatan belajar harus menarik dan berarti bagi anak
8)      Anak dapat belajar aktivitas berdasarkan ketertarikannya.
Piaget mengemukakan bahwa perkembangan kognisi adalah interaksi dari hasil kematangan manusia dan pengaruh lingkungan. Piaget berpendapat bahwa perkembangan kognitif di bagi menjadi 4 fase :
·         Fase Sensori Motor
Yaitu antara rentang usia 0-2 tahun. Pada rentang usia tersebut, anak berinteraksi dngan dunia sekitar melalui panca indera. Dimulai dari gerakan reflek yang dimiliki sejak lahir, menghisap, mengenggam, melihat, melempar hingga pada akhir usia 2 tahun anak sudah dapat menggunakan satu enda dengan tujuan berbeda. Dapat berpikir kompleks seperti bagaimana cara untuk mendapatkan suatu benda yang diinginkan dan melakukan apa yang diinginkannya dengan benda tersebut. Kemampuan ini merupakan awal berpikir secara simbolik yaitu kemampuan untuk memikirkan suatu objek tersebut secara empirik.
·         Fase Pra Operasional
Yaitu pada rentang usia 2-7 tahun. Fase ini merupakan masa permulaan anak untuk membangun kemampuannya dalam menyusun pikirannya.
18
Oleh sebab itu, cara berpikir anak belum stabil dan belum terorganisir secara baik. Fase ini dibagi menjadi 3 sub fase berpikir :
a.       Berpikir secara simbolik (2-4 tahun), yaitu kemampuan berpikir tentang objek dan peristiwa secara abstrak. Anak sudah dapat menggambarkan objek yang tidak ada dihadapannya. Kemampuan berpikir simbolik, ditambah dengan perkembangan kemampuan bahasa dan fantasi sehingga anak mempunyai dimensi baru dalam bermain. Anak dapat menggunakan kata-katanya untuk menandai suatu objek dan membuat substitusi dari objek tersebut.
b.      Berpikir secara egosentris (2-4 tahun), anak melihat dunia dengan perspektifnya sendiri, menilai benar/tidak berdasarkan sudut pandang sendiri. Sehingga anak belum dapat meletakkan cara pandangnya dari sudut pandang orang lain.
c.       Berpikir secara intuitif (4-7 tahun), yaitu kemampuan untuk mencapai sesuatu (menggambar/menyusun balok), tetapi tidak mengetahui alasan pasti mengapa melakukan hal tersebut. Pada usia ini anak sudah dapat mengklarifikasiobjek sesuai dengan kelompoknya.
·         Fase Operasi Konkret (7-12 tahun)
Anak sudah punya kemampuan bepikir secara logis dengan syarat objek yang menjadi sumber berpikir tersebut hadir secara konkret. Anak dapat menglkarifikasi objek, mengurutkan benda sesuai dengan tata urutnya, memahami cara pandang orang lain dan berpikir secara deduktif.
·         Fase Operasi Formal (12 tahun)
Anak dapat berpikir secara bstrak seperti kemampuan mengemukakan ide-ide, memprediksi kejadian yang akan terjadi, melakukan proses berpikir ilmiah yaitu mengemukakan hipotesis dan menentukan cara untuk membuktikan kebenaran hipotesis tersebut.
Cara Belajar Anak Usia Dini
Anak usia dini belajar melalui active learning, metode yang digunakan adalah memberikan pertanyaan pada anak danmembiarkan berpikir/bertanya pad dir sendiri, sehingga hasil belajar yang didapat merupakan konstruksi anak tersebut. Karena pada dasarnya anak memiliki kemampuan untuk membangun dan mengkreasi pengetahuan sendiri, sehingga sangat penting bagi anak untuk terlibat langsung dalam proses belajar. Piaget juga menjelaskan bahwa pengalaman belajar anak lebih banyak didapat dengan cara bermain, melakukan percobaan dengan objek nyata, dan melalui pengalaman konkret. Anak mempunyai kesempatan untuk mengkreasi dan memanipulasi objek atau ide.


19
Cara Anak Memperoleh Pengetahuan
·         Melalui interaksi sosial
Anak mengetahui sesuai dari manusia lain ketika anak meneliti atau melihat sesuatu, anak tersebut akan tahu tentang objek jika diberitahu oleh pihak lain.
·         Melalui pengetahuan fisik
Yaitu mengetahui sifat fisik dari suatu benda. Pengetahuan ini diperoleh dengan menjelajah dunia yang bersifat fisik, melalui kegiatan tersebut anak belajar tentang sifat bulat, panjang, pendek, keras, lemah, dingin atau panas. Konsep tersebut didapat dari pemahaman terhadap lingkungan dimana anak berinteraksi.
·         Melalui logika mathematical
Meliputi pengertian tentang angka, seri, klasifikasi, waktu, ruang, dan konversi.
a.       Metode praktik langsung, melalui kegiatan praktik langsung diharapkan anak akan dapat pengalaman melalui interaksi langsung dengan objek
b.      Metode cerita, anak akan mendapat pengetahuan tentang bagaiman cara menyampaikan pesan kepada orang lain
c.       Metode tanya jawab, membangun pengetahuan tentang pertanyan-pertanyaan yang diajukan, anak dapat menjawab dan membuat pertanyaan
d.      Metode proyek, memberi kesempatan anak untuk mengeksplorasi lingkungannya
e.       Metode bermain peran, anak dapat mengembangkan pengetahuan sosial karena dituntut untuk mempelajari memperagakan peran yang dimainkan
f.       Metode demonstrasi, memperagakan suatu tahapan kejadian, proses, dan peristiwa

10. Ovide Decroly

            Declory dilahirkan di Belgia. Declory mengembangkan suatu bentuk model pembelajaran simbiotis sebagai bentuk ketidaksepahaman dengan model pendidikan kuno yang memperlihatkan bidang secara terpisah (separate subject) dan tidak berkaitan dengan kehidupan anak. Model dan konsep pendidikan yang dikembangkan oleh Declory :
- sekolah harus dihubungkan dengan kehidupan alam sekitar
- pendidikan dan pembelajaran didasarkan pada perkembangan  anak
20
            - sekolah menjadi laboratorium bekerja bagi anak-anak
            - bahan-bahan pendidikan atau pembelajaran bersifat fungsioanal praktis
            - perlunya pendidikan sosial dan kesusilaan
            - perlunya kerjasama antara rumah dan sekolah

Pandangan Declory tentang pendidikan dan pembelajaran dipengaruhi oleh teori evolusi Darwin, yaitu :
(1). Tiap individu berkembang secara teratur dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi
            (2). Tiap individu harus dapat menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya.

Bahan pembelajaran anak usia dini dibagi menjadi empat menurut Decroly, yaitu :
1.      Makanan (kebutuhan makan)
2.      Pakaian (kebutuhan untuk melindungi diri dari pengaruh udara)
3.      Pembelaan diri
4.      Bekerja dan berolah raga

Implikasi Model Pendidikan Simbotis
Langkah pembelajaran simbiotis yang terbagi menjadi beberapa tahap :
a.       Observasi atau pengamatan
b.      Kegiatan pengolahan atau asosiasi
c.       Kegiatan ekspresi atau pengungkapan
d.      Pelaporan

Implemantasi pembelajaran simbiotis
a.       Mengenalkan struktur kalimat (perintah)
b.      Analisis sistesis kalimat ke kata
c.       Analisis sintesis kata ke suku kata
d.      Analisis sintesis suku kata ke huruf
21
            Kegiatan berhitung permulaan yang menggunakan konsep yang ditawarkan oleh Declory dapat dicermati melalui kegiatan berhitung permulaan yang dilakukan melalui kegiatan peragaan dan pengamatan secara langsung.

11. Ki Hajar Dewantara
            Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta debgan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, beliau mendirikan perguruanTaman Siswa. Ia pernah bersekolah di ELS dan STOVIA. Beliau wafat pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta. Melalui surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959, Beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dan tanggal lahirnya 2 Mei, dijadikan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia dan ia dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.
Dasar Pemikiran Ki Hajar Dewantara
            Ki Hajar Dewantara, pendidikan asli Indonesia, melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologiknya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cita, karsa, dan karya. Beliau mengatakan pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Ternyata pendidik sekarang hanya menekankan pada pengembangan daya, cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi.
            Dari titik pandangan sosio-antropologis, kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu beebudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya, tetapi budaya masyarakat berbeda-beda. Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, kemudian sesebagai fasilitator atau pengajar.
22
            Secara garis besar, Ki Hajar Dewantara mengemukakan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan fisik seseorang. Dalam kaitan dengan pendidikan nasional, ketiga elemen ini hendaknya berlandaskan garis hidup bangsanya atau berdasarkan kebudayaan ditujukan untuk mengangkat derajat serta memerdekakan  manusia. Kemerdekaan ini berarti berdiri sendiri (zelfstandig), tidak tergantung kepada orang lain (onafhankelijk), dan dapat mengatur dirinya sendiri (vrijheid, zelfsbeschikking).
            Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan Taman Siswa. Merdeka baik secara fisik, mental dan kerohanian. Situasi yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah situasi yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cinta kasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya.

Sistem Pendidikan ‘Sistem Among’
            Sistem among adalah metode pembelajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Selain itu, pembelajran yang diberikan kepada anak didik tidak bersifat paksaan bahkan perilaku memimpin kadang tidak perlu dilakukan.
            Ki Hajar Dewantara beranggapan bahwa pendidikan harus dilakukan melalui tiga lingkungan pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan lingkungan sosial (masyarakat). Keluarga merupakan pusat pendidikan sedangkan sekolah dan lingkungan membantu anak untuk belajar. Pendidikan yang terutama dan utama diperoleh anak adalah dari dalam keluarga.
Pemahaman tentang pendidikan anak usia dini
            Ciri khas dari pendidikan anak usia dini menurut aliran Ki Hajar Dewantara ialah
1.      Budi pekerti
            Materi yang penting diberikan kepada anak usia dini adalah pendidikan budi pekerti. Bentuknya bukan mata pelajaran budi pekerti, tetapi menanamkan nilai, harkat dan martabat kemanusiaan, nilai moral watak, dan pada akhirnya pembentukan manusia yang berkepribadian. Budi pekerti bertujuan untuk mengatur kehidupan manusia.
            Dalam menanamkan budi pekerti pada PAUD dengan memberikan contoh teladan, cerita atau dongeng, dan permainan. Dengan pendekatan tersebut dapat mendidik anak tentang budi pekerti sedangkan sang anak tidak merasa bahwa sikapnya sedang dibentuk. Kreativitas dan inovasi guru dituntut dalam proses pembelajaran untuk mendididk, khususnya pembentukan sikap melalui pelajaran yang sedang diberikan.
           
23
Pembagian perkembangan manusia dengan menggunakan interval tujuh tahunan usia kronologis yaitu :
a.       Usia 1-7 tahun dipandang sebagai masa kanak-kanak, pendidikan yang cocok pada fase ini yaitu dengan cara pemberian contoh dan pembiasaan.
b.      Usia 7-14 tahun dipandang sebagai masa pertumbuhan jiwa pikiran, pendidikan yang cocok pada fase ini yaitu dengan cara pembelajaran, perintah atau hukuman
c.       Usia 14-21 tahun dipandang sebagai masa terbentuknya budi pekerti atau periode sosial, pendidikan yang cocok pada fase ini yaitu dengan cara mendisiplinkan diri sendiri dan melakukan atau merasakannya secara langsung.

2.      Sistem among, inti dari sistem among yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Napitupulu (2001;15-16) adalah :
a.       Ing ngarso sing tulodo, artinya jika pendidikan berada di depan wajib memberikan teladan bagi anak didik. Posisi ini sebaiknya lebih banyak diberikan kepada anak usia dini, tidak perlu banyak nasehat, petuah dan ceramah
b.      Ing madya mangun karso, artinya jika pendidikan berada di tengah-tengah harus lebih banyak membangun atau membangkitkan kemauan sehingga anak mempunyai kesempatan untuk mencoba berbuat sendiri. Anak usia dini sudah dapat mengerjakan, namun lebih tepat setelah taman kanak-kanak teladan pendidikan masih diperlukan.
c.       Tut wuri handayani, artinya jika pendidik di belakang wajib memberikan dorongan dan memantau agar anak mampu bekerja sendiri.

12. Muhammad Syafei
Beliau adalah pendiri dari INS di Kayu Tanam , lahir di Sumatra 31 Oktober 1926, lembaga ini sebagai reaksi spontan terhadap corak pendidikan dimasa itu, yang hanya mementingkan intelektualisme dan bercorak verbalitis, suatu pendidikan yang hanya menghasilkan pegawai rendahan yg dibutuhkan oleh usaha dimasa itu.Sistem pendidikan yang diciptakan oleh beliau ada persamaannya dengan Arbeit Schule, berorientasi '”life and community-centered”, sehingga hubungan sekolah dan masyarakat menjadi sangat erat dan juga sistem ini didasari dengan keTuhanan YME dan berdasar pada rasa nasional yang kuat. Anak-anak dididik dengan tujuan agar menjadi manusia yang beriman, harmonis dalam perkembangan, berbudi pekerti  luhur, kreatif, aktif dan produktif.
24
Pendidikan yang ditanamkan kepada ada tentang budi pekerti, cinta tanah air, cinta lingkungan, rasa nasionalisme yang tinggi, pelaksanaan atas kebesaran Tuhan YME. Bidang pendidikan yang diterapkan dalam mendidik anak : bidang olahraga, kesenian, pertanian, serta pendidikan dan pembelajaran yang sesuai dengan bakat anak. Dalam mendidik dan melakukan pwmbwlajaran pendidik harus mengusai ilmu, menguasai sikap sabar, dalam mendidik anak, harus pandai bergaul atau dapat bersosialisasi dan memiliki keterampilan disegala bidang untuk mempelancar tugasnya.

Implikasi dalam pembelajaran Anak usia dini
Dasar dasar kependidikan yang dapat mengembangkan anak usia dini  :
·Percaya pada diri sendiri
- Saat anak bermain harus ditanamkan rasa percaya diri bahwa mereka bisa melakukan sesuatu tanpa harus adanya bantuan dr orang lain
-Mampu melindungi diri sendiri dalam hal keamanan diri
contoh: tidak membiarkan dirinya dicubit atau dipuk temannya
-Anak didik menjadi manusia yang beriman,harmonis dalam perkembangan, berbudi lhur, kreatif,aktif dan produtif
·Berakhlak(bersusila)setinggi mungkin
Anak dapat memahami norma-norma agama secara sederhana
seperti mengerti boleh dan tidak boleh, antara dilarang dan tidak dilarang (menyayangi sesama teman dan tidak mengambil yang bukan miliknya)
·Mempunyai daya cipta
Anak dapat mengembangkan bakat dan minat sesuai kemampuan yang dimiliki (merangkai sedotan plastik menjadi kalung atau membangun rumah dari balpk)
·Berperasaan tajam, halus dan estetik
Anak dapat memahami ekspresi muka orang dewasa (membedakan orang sedang marah atau tidak marah)
·Jasmani yang sehat dan kuat
Anak dapat melakukan kegiatan motorik halus (hal yang melibatkan gerak tangan dan jari'tangan) dan motorik kasar (kegiatan diluar ruangan seperti menendang, melompat, berlari, memanjat)


25
·Mempunyai darah kesatria , yang berarti berani karena benar
Anak berani mengemukakan pendapat, anak juga mempunyai rasa ingin tau yang besar
·Mempunyai jiwa konsentrasi
Anak dapat memusatka pikirannya disaat anak mengikuti kegioatan belajar
·pemeliharaan jiwa konsentrasi
Anak dapat menjaga dan memelihara milik sendiri
·Menempati janji
pendidik melakukan kesepakatan dalam belajar ataupun dalam bermain
·Hemat
anak dibiasakan untuk menabung, dan diberi pemahaman tentang uang
·Memenuhi kewajiban dalam belajar
Anak dibiasakan merapikan kembali peralatan mainnya dan merapikan peralatan sekolah sendiri

13. Conny R. Semiawa
           
           
            Conny Rioskina semiawan lahir di Ngawi, Madiun, Jawatimur, 6 November 1930.
            Pandangan tentang Pendidikan Anak Usia Dini
            Sistem layanan pendidikan pada anak usia dini selau berubah dr waktu kewaktu dengan perubahannya zaman dikarenakan adanya berbagai perubahan yang terjadi dilingkungan anak, misalnya perubahan ilmu pengetahuan, teknologi dan arus informasi yang demikian pesat dan berakar dari ilmu pendidikan,sedang pohon ilmu pendidikan (body of knowledge) dari ilmu pendidikan berasal dari multi referensial ilmu terdahulu seperti filosofi, psikologi, antropologi, budaya dan sosiologi. Ilmu pendidikan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia yang mengacu pada perilaku yang normatif (as it should be). Kajian pendidikan adalah perilaku manusia untuk diarahkan kepada perilaku normatif.
           


26
Pendidikan usia dini muncul karena dalam perkembangannya bersinggungan dengan ilmu lain (common ground) yang menjadi obyek penelaahan yaitu perilaku anak usia dini 0-8tahun dalam situasi pendidikan sehingga muncul ilmu baru yang bernama Pendidikan anak usia dini.
Delors dalam Napitupulu (2001:25) mengemukakan tentang learning society =masyarakat belajar dalam bukunya learning treasure within. Inti dari batang tubuh ilmu pendidikan adalah belajar dan pembelajaran.
            Anak berkembang dan belajar dari lingkungan yang melawati 3 wase utama merupakan interaksi antara faktor genetia (nature), lingkungan (nurture) dan individu (self generating trend). Develompental interface artinya seberapa besar interaksi antara faktor nature dan nuture dalam diri seseorang yang memengaruhi perkembangannya (Semiawan, 2007;3).
           
            Pembelajaran Anak Usia Dini
                       
            Bermain adalah kegiatan yang serius, namun mengasikan. Melalui bermain semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal hal yang sudah diketahui dan menemukan hal hal yang baru , anak juga dapat mengembangkan semua potensi secara optimal, baik potensi fisik maupun mental, intelektual dan spiritual. Bermain adalah medium, dimana anak menyatakan jati dirinya , bukan saja dalam berfantasi, tetapi juga benar nyata secara aktif.
            Permaiana adalah alat bagi anak untuk menjelajah dunianya, dari yang tidak ia kenali sampai pada yang ia ketahui dan dari yang tidak dapat diperbuatnya hingga mampu melakukannya. Belajar sambil bermain bagi anak usia dini merupakan prasyarat penting bila orang tua menginginkan anakanya sehat mental








27
Implementasi dalam Pembelajaran Anak Usia Dini
            Kesimpulan :
1.                  Beberpa tokoh dan pakar Anak Usia Dini antara lain :
·                                             Dalam negeri : Ki Hajar Dewantara, Muhammad Syafei dan Conny R. Semiawan
·                                             Luar negeri : Johann Heinrich Pestalozzi, Jan Lighthart, William H. Kilpatrick, Maria Montessori, Frederich Wilhelm Froebel, Helen Parkhurst, Lev Vygotsky, Sarah Smilansky, Jean Piaget, dan Ovide Declory

2.                  Yang melatar belakangi para tokoh sehingga peduli terhadap Pendidikan Anak Usia Dini antara lain :
1.Johann Heinrich Pestalozzi
Ia mendirikan sekolah ditanah pertanian bernama ”Neuhof” karena ia ingin mengembangkan idenya tentang keterpaduan antara kehidupan rumah, pendidikan kejuruan dan pertanian.
2.Jan Lighthart
Ia menyajikan suatu bentuk model pendidikan yang terkenal denagn ”Pembelajaran Barang yang sesungguhnya”. Bertujuan menghasilkan manusia atau anak yang memiliki budi pekerti yang luhur, bukan hanya cerdas otaknya saja tetapi juga cerdas dalam berperilaku.
3.William H. Kilpatrick
Ia mengembangkan suatu bentuk pembelajaran yang praktis, dinamis dan bersifat fleksibel untuk memebantu anak memahami berbagai pengetahuan berbagai pengetahuan secara logis, konkret dan aktif.
4.Maria Montessori
Karena Maria Montessori berminat terhadap masalah pendidikan anak tergolong terbelakang.
5.Frederich Wilhelm Froebel
Karena  memiliki ide untuk membelajarkan anak diluar rumah supaya lebih efektif (bermain) dan lebih dititik beratkan pada pembelajaran keterampilan motorik kasar atau motorik halus.
6.Helen Parkhurst
Kegiatan pembelajaran anak harus disesuaikan dengan sifat dan keadaan anak yang mempunyai perkembangan masing-masing bahan pembelajaran dan cara guru mengajarkan harus mengikuti perkembangan anak.
7.Lev Vygotsky
Karena pengetahuan tidak diperoleh dengan cara dalihkan orang lain, melainkan merupakan sesuatu yang dibangun dan diciptakan oleh anak.
8.Sarah Smilansky
Karena setiap anak harus mengalami bermain yang banyak melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungannya.
28
9.Jean Piaget
Karena menurutnya anak perlu diberikan pertanyaan untuk meningkatkan pola berpikirnya.
10.                    Ovide Declory
Declory mengembangkan suatu bentuk model pembelajaran simbiotis sebagai bentuk ketidaksepahaman dengan model pendidikan kuno yang memperlihatkan bidang secara terpisah (separate subject) dan tidak berkaitan dengan kehidupan anak.
11.                    Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara, pendidikan asli Indonesia, melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologiknya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang.
12.                    Muhammad Syafei
Karena menurut Muhammad Syafei corak pendidikan dimasa itu hanya mementingkan entelektualisme dan bercorak forbalistis.
13.                    Conny R. Semiawan
Karena pendidikan taman kanak-kanak di Indonesia lebih banyak memaksa anak untuk belajar dan terlalu menjejali anak dengan berbagai banyak hal.

3.                  implementasi Pendidikan Anak Usia Dini menurut para tokoh :

1.      Johann Heinrich Pestalozzi
Melalui teori AVM (Auditori, Visual, Memori) implementasi anak usia dini melalui berbagai lembaga pendidikan :
1.      Play group (2-3 tahun)
2.      Taman kanak-kanak (3-6 tahun)
3.      Sekolah dasar (6-8 tahun)
2.      Jan Lighthart
Implementasinya dengan cara memperagakan atau pembelajaran melalui barang sungguhan.
3.      William H. Kilpatrick
Implementasi Kilpatrick pada anak usia dini yaitu pendidikan berdasarkan tematik artinya sistem belajarnya didasarkan pada satu teama, tetapi dari satu tema itu dapat menggali berbagai kecerdasan anak.
4.      Maria Montessori
Implementasi Maria Montessori dengan cara kegiatan ’belajar’ membaca menggantungkan pias kertas bertuliskan nama-nama benda.
5.      Frederich Wilhelm Froebel


29
6.      Helen Parkhurst
Implementasi Helen Parkhurst menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini :
·      Persiapan
·      Pelaksanaan
·      Penataan lingkungan
7.      Lev Vygotsky
Kegiatan pembelajaran berdasarkan teori belajar Vygotsky antara lain :
·               Menyusun balok
·               Menyampaikan cerita
·               Permainan dramatik
·               Penulis Jurnal
8.      Sarah Smilansky

9.      Jean Piaget
Untuk membangun pengetahuan pada anak diperlukan metode pembelajaran yang tepat agar pengetahuan yang ingin dibangun oleh anak dapat terinternalisasi denagn baik, metode tersebut antara lain :
·           Metode praktik langsung
·           Metode cerita
·           Metode tanya jawab
·           Metode proyek
·           Metode bermain peran
·           Metode demonstrasi
10.        Ovide Declory
Implementasi pembelajaran simbiotis sebagai berikut :
1.            mengenal struktur kalimat (perintah)
2.            analisis sintesis kalimat ke kata
3.            analisis sintesis kata ke suku kata
4.            analisis sintesis suku kata ke huruf
11.        Ki Hajar Dewantara

12.        Muhammad Syafei

13.        Conny R. Semiawan
Pendidikan bagi anak usia dini adalah belajar sambil bermain. Bermainnya dengan kegiatan yang serius namun mengasyikkan








30
Kesimpulan :
Beberpa tokoh dan pakar Anak Usia Dini antara lain :
    • Dalam negeri : Ki Hajar Dewantara, Muhammad Syafei dan Conny R. Semiawan
    • Luar negeri : Johann Heinrich Pestalozzi, Jan Lighthart, William H. Kilpatrick, Maria Montessori, Frederich Wilhelm Froebel, Helen Parkhurst, Lev Vygotsky, Sarah Smilansky, Jean Piaget, dan Ovide Declory

  1. Yang melatar belakangi para tokoh sehingga peduli terhadap Pendidikan Anak Usia Dini antara lain :
    1. Johann Heinrich Pestalozzi
Ia mendirikan sekolah ditanah pertanian bernama ”Neuhof” karena ia ingin mengembangkan idenya tentang keterpaduan antara kehidupan rumah, pendidikan kejuruan dan pertanian.

    1. Jan Lighthart
Ia menyajikan suatu bentuk model pendidikan yang terkenal denagn ”Pembelajaran Barang yang sesungguhnya”. Bertujuan menghasilkan manusia atau anak yang memiliki budi pekerti yang luhur, bukan hanya cerdas otaknya saja tetapi juga cerdas dalam berperilaku.

    1. William H. Kilpatrick
Ia mengembangkan suatu bentuk pembelajaran yang praktis, dinamis dan bersifat fleksibel untuk memebantu anak memahami berbagai pengetahuan berbagai pengetahuan secara logis, konkret dan aktif.

    1. Maria Montessori
Karena Maria Montessori berminat terhadap masalah pendidikan anak tergolong terbelakang.


    1. Frederich Wilhelm Froebel
Karena  memiliki ide untuk membelajarkan anak diluar rumah supaya lebih efektif (bermain) dan lebih dititik beratkan pada pembelajaran keterampilan motorik kasar atau motorik halus.
    1. Helen Parkhurst
Kegiatan pembelajaran anak harus disesuaikan dengan sifat dan keadaan anak yang mempunyai perkembangan masing-masing bahan pembelajaran dan cara guru mengajarkan harus mengikuti perkembangan anak.
31
    1. Lev Vygotsky
Karena pengetahuan tidak diperoleh dengan cara dalihkan orang lain, melainkan merupakan sesuatu yang dibangun dan diciptakan oleh anak.

    1. Sarah Smilansky
Karena setiap anak harus mengalami bermain yang banyak melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungannya.

    1. Jean Piaget
Karena menurutnya anak perlu diberikan pertanyaan untuk meningkatkan pola berpikirnya.

    1. Ovide Declory
Declory mengembangkan suatu bentuk model pembelajaran simbiotis sebagai bentuk ketidaksepahaman dengan model pendidikan kuno yang memperlihatkan bidang secara terpisah (separate subject) dan tidak berkaitan dengan kehidupan anak.

    1. Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara, pendidikan asli Indonesia, melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologiknya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang.

    1. Muhammad Syafei
Karena menurut Muhammad Syafei corak pendidikan dimasa itu hanya mementingkan entelektualisme dan bercorak forbalistis.

    1. Conny R. Semiawan
Karena pendidikan taman kanak-kanak di Indonesia lebih banyak memaksa anak untuk belajar dan terlalu menjejali anak dengan berbagai banyak hal.

  1. implementasi Pendidikan Anak Usia Dini menurut para tokoh :
1.      Johann Heinrich Pestalozzi
Melalui teori AVM (Auditori, Visual, Memori) implementasi anak usia dini melalui berbagai lembaga pendidikan :
                                                                          i.      Play group (2-3 tahun)
                                                                        ii.      Taman kanak-kanak (3-6 tahun)
                                                                      iii.      Sekolah dasar (6-8 tahun)
32
2.      Jan Lighthart
Implementasinya dengan cara memperagakan atau pembelajaran melalui barang sungguhan.

3.      William H. Kilpatrick
Implementasi Kilpatrick pada anak usia dini yaitu pendidikan berdasarkan tematik artinya sistem belajarnya didasarkan pada satu teama, tetapi dari satu tema itu dapat menggali berbagai kecerdasan anak.

4.      Maria Montessori
Implementasi Maria Montessori dengan cara kegiatan ’belajar’ membaca menggantungkan pias kertas bertuliskan nama-nama benda.

5.      Frederich Wilhelm Froebel

6.      Helen Parkhurst
Implementasi Helen Parkhurst menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini :
1.      Persiapan
2.      Pelaksanaan
3.      Penataan lingkungan

7.      Lev Vygotsky
Kegiatan pembelajaran berdasarkan teori belajar Vygotsky antara lain :
·         Menyusun balok
·         Menyampaikan cerita
·         Permainan dramatik
·         Penulis Jurnal

8.      Sarah Smilansky

9.      Jean Piaget
Untuk membangun pengetahuan pada anak diperlukan metode pembelajaran yang tepat agar pengetahuan yang ingin dibangun oleh anak dapat terinternalisasi denagn baik, metode tersebut antara lain :
·         Metode praktik langsung
·         Metode cerita
·         Metode tanya jawab
·         Metode proyek
·         Metode bermain peran
·         Metode demonstrasi
33
10.  Ovide Declory
Implementasi pembelajaran simbiotis sebagai berikut :
                                                                          i.      mengenal struktur kalimat (perintah)
                                                                        ii.      analisis sintesis kalimat ke kata
                                                                      iii.      analisis sintesis kata ke suku kata
                                                                      iv.      analisis sintesis suku kata ke huruf

11.  Ki Hajar Dewantara

12.  Muhammad Syafei

13.  Conny R. Semiawan
Pendidikan bagi anak usia dini adalah belajar sambil bermain. Bermainnya dengan kegiatan yang serius namun mengasyikkan.

















34

No comments:

Post a Comment