TUGAS
PENELITIAN KUANTITATIF
VALIDITAS DAN
RELIABILITAS PENELITIAN
Disusun Oleh:
Galuh Dwi B (111684049)
Rosidah Lawazhim (111684054)
Nur Ardisti (111684201)
Ade Irma F (111684208)
Aprillya S (111684209)
Rosalia Widya H (111684210)
Putri Catur H (111684231)
2011-B
PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA
DINI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2014
A.
VALIDITAS DAN REABILITAS INSTRUMEN
Validitas berasal
dari bahasa Inggris
dari kata validity yang berarti keabsahan atau
kebenaran. Dalam konteks
alat ukur atau
instrumen asesmen, validitas berarti
sejauh mana kecermatan
atau ketepatan alat
ukur dalam melakukan fungsi
ukurnya. Sebuah instrumen yang valid akan menghasilkan data yang tepat
seperti yang diinginkan.
Sebagai contoh, jika
kita ingin mengetahui berat maka
alat ukur yang
tepat adalah timbangan
atau neraca bukan
meteran, termometer, atau
alat yang lain.
Dengan kata lain,
sifat valid memberikan pengertian bahwa
alat ukur yang
digunakan mampu memberikan
nilai yang sesungguhnya dari apa
yang diinginkan.
Reliabilitas
diterjemahkan dari kata reliability yang berarti hal yang dapat dipercaya (tahan
uji). Sebuah tes
dikatakan mempunyai reliabilitas
yang tinggi jika tes terebut
memberikan data hasil yang ajeg (tetap) walaupun diberikan pada waktu yang
berbeda kepada responden
yang sama. Hasil tes
yang tetap atau seandainya berubah
maka perubahan itu
tidak signifikan maka tes tersebut dikatakan reliabel. Oleh
karena itu reliabilitas
sering disebut dengan keterpercayaan, keterandalan,
keajegan, konsistensi, kestabilan, dan sebagainya.
Hasil penelitian
yang valid bila terdapat kesamaan antara data instrumen tersebut dapat
digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Meteran yang valid yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya
terjadi pada obyek yang diteliti. Kalau dalam obyek berwarna merah, sedangkan
data yang terkumpul memberikan data berwarna putih maka hasil penelitian tidak
valid. Selanjutnya hasil penelitian yang reliabel, bila terdapat kesamaan data
dalam waktu yang berbeda. Kalau dalam obyek kemarin berwarna merah, maka
sekarang dan besok tetap berwarna merah.
Instrumen yang
valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu
valid. Valid berarti instrumen tersebut
dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Meteran yang
valid dapat digunakan untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak
valid jika digunakan untuk mengukur berat. Instrumen yang reliabel adalah
instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama,
akan menghasilkan data yang sama. Alat ukur panjang dari karet adalah contoh
instrumen yang tidak reliabel/konsisten.
Dengan
menggunakan instrumen yang valid dan reliabel adalah pengumpulan data, maka
diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Jadi, instrumen
yang valid dan reliabel merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil
penelitian yang valid dan reliabel. Hal ini tidak berarti bahwa dengan
menggunakan instrumen yang telah diuji validitas dan reabilitasnya, otomatis
hasil (data) penelitian menjadi valid dan reliabel. Hal ini masih akan
dipengaruhi oleh kondisi obyek yang diteliti, dan kemampuan orang yang
menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu peneliti harus
mampu mengendalikan obyek yang diteliti dan meningkatkan kemampuan dan
menggunakan instrumen untuk mengukur variabel yang diteliti.
Instrumen-instrumen
dalam ilmu alam, misalnya meteran, thermometer, timbangan, biasanya telah
diakui validitasnya dan reabilitasnya (kecuali instrumen yang sudah rusak dan
palsu). Instrumen-instrumen itu dapat dipercaya validitas dan reabilitasnya
karena sebelum instrumen itu digunakan/dikeluarkan dari pabrik telah diuji
vaaliditas dan reabilitasnya/ditera.
Instrumen-instrumen
dalam ilmu sosial sudah ada yang baku (standard), karena telah teruji validitas
dan reabilitasnya, tetapi banyak juga yang belum baku bahkan belum ada. Untuk
itu maka peneliti harus mampu menyusun sendiri instrumen pada setiap penelitian
dan menguji validitasnya dan reabilitasnya. Instrumen yang tidak teruji
validitas dan reabilitasnya bila digunakan untuk penelitian akan menghasilkan
data yang sulit dipercaya kebenarannya.
Instrumen yang
reliabel belum tentu valid. Meteran yang putus dibagian ujungnya, bila
digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama (reliabel) tetapi
selalu tidak valid. Hal ini disebabkan karena instrumen (meteran) tersebut
rusak. Penjual jamu berbicara di mana-mana kalau obatnya manjur. Reabilitas
instrumen merupakan syarat untuk pengujian validitas instrumen. Oleh karena itu
walaupun instrumen yang valid umumnya pasti reliabel, tetapi pengujian
reliabilitas instrumen perlu dilakukan.
Pada dasarnya
terdapat dua instrumen, yaitu instrumen yang berbentuk test untuk mengukur
prestasi belajar dan instumen yang untuk mengukur sikap. Instrumen yang berupa
test jawabannya tidak ada yang “salah atau benar”, sedangkan instrumen sikap
jawabannya tidak ada yang “salah atau benar” tetapi bersifat “positif dan
negatif”. Skema tentang instrumen yang baik dan cara pengujiannya ditunjukkan
pad gambar 6.1 di halamn berikut.
Pada gambar
tersebut ditunjukkan bahwa instrumen yang baik, (yang berupa test maupun nontest)
harus valid dan reliabel. Instrumen yang valid harus mempunyai validitas
internal dan eksternal. Instrumen yang
mempunyai validitas internal atau rasional, bila kriteria yang ada dalam
instrumen secara rasional (teoritis) telah mencerminkan apa yang diukur. Jadi,
kriterianya ada di dalam instrumen itu. Instrumen yang mempunyai validitas
eksternal bila kriteria di dalam instrumen disusun berdasarkan fakta-fakta
empiris yang telah ada. Kalau validitas internal instrumen dikembangkan menurut
teori yang relevan, maka validitas eksternal instrumen dikembangkan dari fakta
empiirs. Misalnya akan mengukur kinerja (performace)sekelompok
pegawai, maka tolak ukur (kriteria) yang digunakan didasarkan pada tolak ukur
yang telah ditetapkan di kepegawaian itu. Sedangkan validitas internal
dikembangkan dari teori-teori tentang kinerja. Untuk itu penyusunan instrumen
yang baik harus memperhatikan teori dan fakta di lapangan.
Penelitian yang
mempunyai validitas internal, bila data yang dihasilkan merupakan fungsi dari rancangan
dan instrumen yang digunakan. Instrumen tentang kepemimpinan akan menghasilkan
data kepemimpinan
Validitas
internal instrument yang berupa test harus memenuhi construct validity (validitas konstruksi) dan content validity (validitas isi). Sedangkan untuk instrument yang
nontest yang digunakan untuk mengukur sikap cukup memenuhi validitas konstruksi
(construct). Sutrisno Hadi (1986)
menyamakan construct validity sama
dengan logical validity atau validity by definition. Instrumen yang
mempunyai validitas konstruksi, jika instrument tersebut dapat digunakan untuk
mengukur gejala sesuai dengan yang didefinisikan. Misalnya akan mengukur efektivitas organisasi, maka perlu
disiapkan instrument yang digunakan untuk mengukur efektivitas organisasi sesuai dengan definisi yang telah
dirumuskan itu. Untuk melahirkan definisi, maka diperlukan teori-teori. Dalam
hal ini Sutrisno Hadi menyatakan bahwa “bila bangunan teorinya sudah benar,
maka hasil pengukuran dengan alat ukur (instrument) yang berbasis pada teori itu
sudah dipandang sebagai hasil yang valid.
Intrumen
yang harus mempunyai validitas isi (content
validity) adalah instrument yang berbentuk test yang sering digunakan untuk
mengukur prestasi belajar (achievement)
dan mengukur efektivitas pelaksanaan program dan tujuan. Untuk menyusun
instrument prestasi belajar yang mempunyai validitas isi (content validity), maka instrument prestasi belajar yang
berdasarkan materi pelajaran yang telah diajarkan. Sedangkan instrument yang
digunakan untuk mengetahui pelaksanaan program, maka instrument disusun
berdasarkan program yang telah direncanakan. Selanjutnya instrument yang
digunakan untuk mengukur tingjat tercapainya tujuan (efektivitas) maka
instrument harus disusun berdasarkan tujuan yang telah dirumuskan.
B.
PENGUJIAN
VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN
Berikut
ini dikemukakan cara pengujian validitas dan reliabilitas instrument yang akan
digunakan untuk penelitian.
1.
Pengujian
Validitas Instrumen
a.
Pengujian
validitas Konstruksi (Construct Validity)
Untuk menguji validitas
konstruksi, dapat digunakan pendapat dari ahli (judgement experts). Dalam hal ini setelah intrumen dikonstruksi
tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu, maka
selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli. Para ahli diminta pendapatnya tentang
instrument yang telah disusun itu. Mungkin
para ahli akan memberi keputusan: instrument dapat digunakan tanpa perbaikan,
ada perbaikan, dan mungkin dirombak total. Jumlah tenaga ahli yang
digunakan minimal tiga orang dan umumnya mereka telah bergelar doctor sesuai
dengan lingkup yang diteliti.
Setelah pengujian
konstruksi dari ahli dan berdasarkan pengalaman empiris di lapangan selesai,
maka diteruskan dengan uji coba instrumen. Instrumen tersebut dicobakan pada
sampel dari mana populasi diambil. (pengujian pengalaman empiris ditunjukkan
pada pengujian validitas eksternal) jumlah anggota sampel yang digunakan
sekitar 30 orang. Setelah data ditabulasikan, maka pengujian validitas
konstruksi dilakukan dengan analisis faktor yaitu dengan mengkorelasikan
anatara skor item instrument dalam suatu faktor, dan mengkorelasikan skor
faktor dengan skor total. Berikut ini diberikan contoh analisis faktor untuk
menguji construct validity.
Misalnya akan dilakukan
pengujian construct validity melalui
analisis faktor terhadap instrument untuk mengukur prestasi kerja pegawai. Jadi
dalam hal ini variabel penelitiannya adalah prestasi
kerja. Berdasarkan teori dan hasil konsultasi ahli, indicator prestasi
kerja pegawai meliputi dua faktor yaitu: kualitas
hasil kerja dan kecepatan kerja. Selanjutnya indicator (faktor) kecepatan
kerja dikembangkan menjadi tiga pertanyaan, dan kualitas hasil kerja
dikembangkan menjadi 4 butir pertanyaan. Instrumen yang terdiri 7 butir
pertanyaan tersebut, selanjutnya diberikan kepada 5 pegawai sebagai responden
untuk menjawabnya. (Dalam prakteknya menggunakan sekitar 30 responden). Jawaban
7 responden ditunjukkan pada tabel 6.8. Arti angka 4 berarti sangat tinggi, 3
tinggi, 2 rendah, 1 sangat rendah prestasinya.
Seperti telah
dikemukakan bahwa, analisis faktor dilakukan dengan mengkorelasikan jumlah skor
faktor dengan skor total. Bila korelasi tiap faktor tersebut positif dan
besarnya 0,3 ke atas maka faktor tersebut merupakan construct yang kuat. Jadi
berdasarkan analisis faktor itu dapat disimpulkan bahwa instrument tersebut
memiliki validitas konstruksi yang baik.
DATA
PRESTASI KERJA 7 PEGAWAI
|
No.Res
|
Skor
Faktor 1 untuk butir No:
|
Jlm 1
(X1)
|
Skor
Faktor 1 untuk butir No:
|
Jlm 1
(X1)
|
Jml
Total (Y)
|
|||||
|
1
|
2
|
3
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Berdasarkan
tabel 6.9 tersebut telah dihitung bahwa korelasi antara jumlah faktor 1 (X1)
dengan skor total (Y) = 0,85 dan korelasi antara jumlah faktor 2 (X2) dengan
skor total (Y) = 0,94. Karena koefiisien korelasi ke dua faktor tersebut di
atas 0,30, maka dapat disimpulkan bahwa kualitas
hasil kerja dan kecepatan kerja merupakan
konstruksi (construct) yang valid untuk variabel prestasi kerja pegawai.
Selanjutnya
apakah setiap butir dalam instrument itu valid atau tidak, dapat diketahui
dengan cara mengkorelasikan antara skor butir dengan skor total (Y). Jadi untuk
keperluan ini ada tujuh koefisien korelasi yang perlu dihitung. Bila harga
korelasi dibawah 0,30 maka dapat disimpulkan bahwa butir instrument tersebut
tidak valid, sehingga harus diperbaiki atau dibuang.
Dari
hasil perhitungan diketahui bahwa korelasi ke tujuh butir instrument dengan
skor total ditunjukkan pada tabel 6.9 berikut:
Berdasarkan
tabel 6.9 berikut dapat diketahui, bahwa butir no 2 (faktor 1) tidak valid,
karena korelasi butir tersebut dengan skor total hanya 0,22 (di bawah r kritis
0,3). Butir tersebut tidak selaras dengan butir yang lain.
TABEL 6.9
HASIL PERHITUNGAN
PENGUJIAN VALIDITAS KONSTRUK
|
No.
|
R hitung
|
R Kritis
|
Keputusan
|
|
R1 y
|
0,95
|
0,30
|
Valid
|
|
R2 y
|
0,79
|
0,30
|
Valid
|
|
R3 y
|
0,22
|
0,30
|
Tidak valid
|
|
R4 y
|
0,73
|
0,30
|
Valid
|
|
R5 y
|
0,79
|
0,30
|
Valid
|
|
R6 y
|
0,84
|
0,30
|
Valid
|
|
R7 y
|
0,83
|
0,30
|
Valid
|
Pengujian
seluruh butir instrumen dalam satu variabel dpat juga dilakukan dengan mencari
daya pembeda skor tiap item dari kelompok yang emberikan jawaban tinggi dan
jawaban rendah. Dalam hal ini Masrun (1979) menyatakan bahwa
“................analisis untuk mengetahui daya pembeda, sering juga dinamakan
analisis untuk mengetahui validitas item.” Jumlah kelompok yang tinggi diambil
27% dan kelompok yang rendah diambil 27% dari sampel uji coba. Pengujian
analisis daya pembeda dapat menggunakan t-test. Berikut ni diberikan contoh
analisis daya pembeda untuk menguji validitas instrumen.
TABEL 6.10
KELOMPOK SKOR TINGGI DAN RENDAH PADA
INSTRUMEN UNTUK MENGUKUR KINERJA
|
Skor-skor
kelompok Tinggi
|
Skor-skor
kelompok Rendah
|
|
126
|
81
|
|
128
|
96
|
|
135
|
104
|
|
135
|
107
|
|
135
|
108
|
|
140
|
108
|
|
142
|
109
|
|
S1 = 6,1
S12 = 38,1
|
S1 = 10,2
S12 = 104,4
|
Contoh :
Suatu instrumen
penelitian akan digunakan untuk mengukur kinerja aparatur negara. Instrumen
tersebut telah dikonsultasikan kepada para ahli aparaturdn dinyatakan siap
untuk diujicoba. Uji coba diberlakukan terhadap sampel 25 responden yang tahu
masalah aparatur. Berdasarkan 25 responden tersebut dapat dikelompokkan 27%
responden yang memberikan skor tinggi dan 27% skor rendah (27% responden
berarti 0,27 x 25 = 7), seperti tertera dalam tabel 6.9 diatas.
Berdasarkan data yang ada pada tabel
6.10 di atas dan rumus tersebut, maka varian gabungan (Sgab) dapat dihitung.
Selanjutnya
dimasukkan dalam rumus t
Jadi t hitung =
7,37
Untuk
mengetahui apakah perbedaan itu signifikan atau tidak, maka harga t hitung
tersebut perlu dibandingkan dengan harga t tabel. Bila t hitung lebih besar
dengan t tabel, maka perbedaan itu signifikan, sehingga instrumen dinyatakan
valid.
Berdasarkan
tabel t (tabel dalam lampiran), dapat diktahui bahwa bila tingkat kesalahan 5%,
dengan dk 12, maka harga t tabel = 1,78. (dk =n1+I – 2 = 7 + 7 -2 = 12).
Ternyata harga t hitung 7,37 jauh lebih besar daripada t tabel 1,78 sehingga
dapat dinyatakan terdapat perbedaan yang signifikan
antara kelompok skor tinggi (X1) dan kelompok rendah (X2).
Hal ini dapat disimpulkan bahwa instrumen tersebut valid.
Pengujian validitas
dengan uji beda ini didasarkan asumsi bahwa kelompok responden yang digunakan
sebagai uji coba berdistribusi normal. Dengan demikian kelompok skor tinggi dan
rendah harus berbeda secara signifikan, sesuai dengan bentuk kurva normal.
b.
Pengujian
Validitas Isi ( Content Validity)
Untuk instrumen yang berbentuk
test. Pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antar isi
instrumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan. Seorang dosen yang
memberi ujian di luar pelajaran yang telah ditetapkan, berarti instrumen ujian
tersebut tidak mempunyai validitas isi. Untuk instrumen yang akan mengukur
efektivitas pelaksanaan program, maka pengujian validitas isi dapat dilakukan
dengan membandingkan antara isi instrumen dengan isi atau rancangan yang telah
ditetapkan.
Secara teknis pengujian validitas
konstruksi dan validitas ini dapat dibantu dengan menggunakan kisi – kisi
instrumen, atau matrik pengembangan instrumen. Dalam kisi – kisis itu terdapat
variabel yang telah diteliti, indikator sebagai tolak ukur dan nomor butir
(item) pertanyaan atau pernyataan yang telah dijabarkan dari indikator. Dengan
kisi – kisi instrumen itu maka pegujian validitas dapat dilakukan dengan mudah
dan sistematis.
Pada setiap instrumen baik test
maupun nortest terdapat butir – butir instrumen lebih lanjut, maka setelah
dikonsultasikan dengan ahli, maka selanjutnya diujicobakan, dan dianalisis
dengan analisis item atau uji beda (seperti contoh diatas). Analisis item
dilakukan dengan menghitung korelasi antara skor butir instrumen dengan skor
total dan uji beda dilakukan dengan menguji signifikansi perbedaan antara 27%
skor kelompok atas dan 27% skor kelompok bawah.
c.
Pengujian
Validitas Eksternal
Validitas eksternal instrumen diuji
dengan cara membandingkan (untuk mencari kesamaan) antara kriteria yang ada
pada instrumen dengn fakta – fakta empiris yang terjadi di lapangan. Misalnya
instrumen untuk mengukur kinerja sekelompok pegawai, maka kriteria kinerja pada
instrumen itu dibandingkan dengan catatan – catatan di lapangan (empiris)
tentang kinerja pegawai yang baik. Bila telah terdapat kesamaan antara kriteria
dalam intrumen dengan fakta di lapangan, maka dapat dinyatakan instrumen tersebut
mempunyai validitas eksternal yang tinggi.
Instrumen penelitian yang mempunyai
validitas eksternal yang tinggi akan mengakibatkan hasil penelitian mempunyai
validitas eksternal yang tinggi pula. Penelitian mempunyai validitas eksternal
bila hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada sampel lain
dalam populasi yang diteliti. Untuk meningkatkan validitas eksternal peneliti
selain meningkatkan validitas eksternal instrumen, maka dapat dilakukan dengan
memperbesar jumlah sampel.
2.
Pengujian Reliabilitas Instrumen
Pengujian
Reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara
eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test – retest (stability),
equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrument
dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir – butir yang ada pada
instrumen dengan teknik tertentu.
a.
Test
– retest
Instrumen
penelitian yang reliabilitasnya diuji dengan test – retest dilakukan dengan
cara mencobakan instrumen beberapa kali pada responden. Jadi dalam hal ini
instrumennya sama, respondennya sama, dan waktunya yang berbeda. Reliabilitas
diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya.
Bila koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya. Bila
koefisien korelasi positif dan signifikan maka instrumen tersebut sudah
dinyatakn reliabel.
b.
Ekuivalen
Instrumen
yang ekuivalen adalah pertanyaan yang secara bahasa berbeda, tetapi maksudnya
sama. Sebagai contoh (untuk satu butir saja). Berapa tahun pengalaman kerja
anda dilembaga ini? Pertanyaan tersebut dapat equivalen dengan pertanyaan
berikut. Tahun berapa anda mulai bekerja dilembaga ini?
Pengujian
reliabilitas instrumen dengan cara ini,cukup dilakukan sekali, tetapi
instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu sama, instrumen berbeda.
Reliablitas instrumen dihitung dengan cara mengkorelasikan antara data
instrumen yang satu dengan data instrumen yang dijadikan equivalent. Bila
korelasi positifdan signifikan, maka instrumen dapat dinyatakan reliabel.
c.
Gabungan
Pengujian reliabilitas
ini dilakukan dengan cara mencobakan dua instrumen yang equivalent itu beberapa
kali, ke responden yang sama. Jadi cara ini merupakan gabungan pertama dan
kedua. Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan dua instrumen,
setelah itu dikorelasikan pada pengujian kedua, dan selanjutnya dikorelasikan
secara silang.
Pengujian Reliabilitas Gabungan
Jika
dengan dua uji pengujian dalam waktu yang berbeda akan dapat dianalisis enam
koefisien reliabiltas. Bila keenam koefisien korelasi itu semuanya positif dan
signifikan, maka dapat dinyatakan bahwa instrumen tersebut reliabel.
d.
Internal
Consistency
Pengujian
reliablitas dengan internal consistency, dilakukan dengan cara mencobakan
instrumen sekali saja, kemudian yang data diperoleh dianalisis dengan teknik
tertentu. Hasil analisis dapat digunakan untuk mempediksi reliabilitas instrumen.
Pengujian
reliabilitas instrumen dapat dilakukan dengan teknik belah dua dari spearman
Brown (Split haf), KR. 20, KR 21 dan Anova Hyot.
3. Contoh Pengujian Validitas dan
Reliabilitas Instrumen
Instrumen
yang akan di uji adalah instrumen Gaya Kepemimpinan Manajer, seperti contoh di
depan. Instrumen tersebut diasumsikan telah disetujui oleh para ahli. Oleh
karena itu instrumen telah dicobakan kepada 30 responden dan hasilnya
ditunjukkan pada tabel 6.11 di halaman berikut.
Instrumen
terdiri atas 18 butir (item). dimana tiap butir disiapkan 4 interval jawaban.
Jawaban terendah diberi skor 1 dan tertinggi diberi skor 4.
a.
Pengujian
Validitas Instrumen
Pengujian
validitas tiap butir digunakan analisis item, yaitu mengkorelasikan skor tipa
butir dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir. Dalam tabel
telah ditunjukkan skor totalnya, yang merupakan jumlah tiap skor butir.
TABEL
6.12
DATA
HASIL UJI COBA INSTRUMEN GAYA KEPEMIMPINAN
|
No Res
|
Skor untuk item no :
|
Skor
Total
|
|||||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
17
|
18
|
||
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
|
4
3
2
3
3
1
2
3
4
1
3
1
2
4
2
3
2
3
4
2
2
1
2
4
3
3
2
3
4
3
|
3
3
1
3
3
1
3
3
4
2
4
2
3
3
3
2
3
1
3
2
2
1
3
3
2
2
3
3
3
4
|
4
4
3
3
2
1
3
2
4
2
3
3
2
4
4
4
4
3
2
4
2
1
3
2
3
3
2
3
4
3
|
3
2
2
3
3
1
3
2
4
3
4
1
3
3
3
3
3
2
3
4
3
1
4
3
4
4
4
3
3
4
|
4
3
1
4
4
2
3
2
4
3
3
2
2
4
3
2
1
3
2
2
4
1
3
2
3
3
3
3
3
2
|
2
4
2
2
3
1
3
3
4
3
4
1
3
3
2
3
2
2
4
3
3
2
2
3
2
2
2
3
3
2
|
4
3
3
4
2
1
2
34
3
3
2
3
3
4
3
4
3
3
3
4
2
1
3
4
1
3
3
3
4
2
|
4
4
2
3
3
2
3
3
3
3
2
3
3
2
4
3
2
4
4
3
3
2
4
3
3
4
2
3
2
3
|
4
3
2
4
2
3
4
4
3
4
3
3
4
3
1
4
3
3
3
2
4
2
3
2
1
3
3
3
3
3
|
3
2
1
3
3
2
3
3
3
3
2
3
3
4
2
2
3
3
2
3
3
3
2
3
2
2
4
3
4
4
|
4
4
1
2
1
2
2
2
2
3
3
2
3
3
1
3
2
4
2
1
4
1
3
4
2
3
3
2
3
3
|
4
3
1
3
2
3
3
3
3
2
4
1
2
2
2
4
3
3
3
2
3
4
3
3
3
4
2
3
2
1
|
3
3
2
4
2
2
3
2
4
3
3
2
2
3
3
3
3
2
4
2
2
2
4
2
2
3
3
3
2
1
|
3
3
2
3
3
2
3
3
3
4
2
1
2
4
1
3
2
3
3
3
2
1
3
4
4
2
2
2
3
2
|
2
3
2
2
3
1
4
4
2
3
3
2
3
2
1
2
3
4
1
2
2
2
2
4
1
1
2
4
2
1
|
4
3
1
3
2
1
2
3
3
2
4
3
3
3
2
3
4
3
2
3
3
1
4
3
3
2
3
2
3
2
|
2
2
2
3
2
1
3
3
4
3
3
1
2
3
1
4
3
2
3
4
2
2
3
4
3
2
2
3
2
4
|
3
3
32
2
2
1
4
2
3
2
2
2
3
3
2
3
2
3
1
2
3
3
3
1
3
3
3
2
4
2
|
60
55
32
54
45
28
53
50
61
49
55
35
48
57
40
55
48
51
49
57
49
31
55
55
43
49
48
49
57
45
|
Dalam hal analisis item ini Masrun
(1979) menyatakan “Teknik Korelasi untuk menentukan validitas item ini sampai
sekarang merupakan teknik yang paling banyak digunakan”. Selanjutnya dalam
memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi., Masrun menyatakan “Item
yang mempunyai korelasi positif dengan kriterium (skor total) serta korelasi
yang tinggi menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai validitas yang tinggi
pula. Biasanya syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat adalah kalau r =
0,3”. Jadi kalau korelasi antara butir dengan skor total kurang dari 0,3 maka
butir dalam instrumen tersebut dinyatakan tidak valid.
Berdasarkan
data yang terkumpul dari 30 responden yang ditunjukkan dalam tabel 6.12 maka
terdapat 18 koefisien korelasi (jumlah butir 18). Hasil analisis item
ditunjukkan pada tabel 6.12 berikut:
TABEL
6.12
HASIL
ANALISIS ITEM INSTRUMEN GAYA KEPEMIMPINAN
|
No.
Butir instrumen
|
Koefisien
Korelasi
|
Keterangan
1
|
|
1
|
0,71
|
Valid
|
|
2
|
0,63
|
Valid
|
|
3
|
0,45
|
Valid
|
|
4
|
0,51
|
Valid
|
|
5
|
0,60
|
Valid
|
|
6
|
0,59
|
Valid
|
|
7
|
0,72
|
Valid
|
|
8
|
0,31
|
Valid
|
|
9
|
0,45
|
Valid
|
|
10
|
0,45
|
Valid
|
|
11
|
0,56
|
Valid
|
|
12
|
0,36
|
Valid
|
|
13
|
0,41
|
Valid
|
|
14
|
0,67
|
Valid
|
|
15
|
0,35
|
Valid
|
|
16
|
0,70
|
Valid
|
|
17
|
0,56
|
Valid
|
|
18
|
051
|
Valid
|
Dari
tabel 6.12 itu dapat dibaca bahwa korelasi antara skor butir 1 dengan skor,
total = 0,71 antara butir 2 dengan skor total = 0,63 dan seterusnya. Korelasi
yang digunakan adalah korelasi Pearson Moment yang rumusnya dapat dilihat pada
bab analisis data.
Seperti
telah dikemukakan bahwa, bila koefisien korelasi sama dengan 0,3 atau lebih
(paling kecil 0,3 ). Maka buir instrumen dinyatakan valid. Dari uji coba
tersebut ternyata koefisien korelasi semua butir dengan skor total di atas 0,3
sehingga semua butir instrumen gaya kepemimpinan dinyatakan valid. Butir yang
mempunyai validitas tertinggi adalah butir satu, dengan koefisien korelasi 0,71
dan paling rendah adalah butir nomor 8 dengan koefisien korelasi 0, 31.
b.
Pengujian
Reliabilitas Instrumen
Pengujian
reliabilitas instrumen dilakukan dengan internal consistency dengan teknik
belah dua (split half) yang dianalisis engan rumus Spearman Brown (lihat
rumusnya). Untuk keperluan itu maka butir – butir instrumen di belah menjadi
dua kelompok, yaitu kelompok instrumen ganjil dan kelompok genap. Selanjutnya
skor data tip kelompok itu disusun sendiri. Untuk kelompok ganjil ditunjukkan
pada tabel 6.13
TABEL
6.14
DATA
UNTUK ITEM GENAP
|
No
Res
|
Skor
untuk butir No :
|
Skor
Total
|
||||||||
|
1
|
3
|
5
|
7
|
9
|
1
|
3
|
5
|
7
|
||
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
|
4
3
2
3
3
1
2
3
4
1
3
1
2
4
2
3
2
3
4
2
2
1
2
4
3
3
2
3
4
3
|
4
4
3
3
2
1
3
2
4
2
3
3
2
4
3
4
4
3
2
4
2
1
3
2
3
3
2
3
4
5
|
4
3
1
4
4
2
3
2
4
3
3
2
3
4
3
2
1
3
2
2
4
1
3
2
3
3
3
3
4
2
|
4
3
3
4
2
1
2
3
4
4
3
3
3
4
3
4
3
3
3
4
2
1
3
4
1
3
3
3
4
2
|
4
3
2
4
2
3
4
4
3
4
3
3
4
3
1
4
3
3
3
2
4
2
3
2
1
3
3
3
3
3
|
4
4
1
2
1
2
2
2
2
3
3
2
3
3
1
3
2
4
2
1
4
1
3
4
2
3
3
2
3
3
|
3
3
2
4
2
2
3
2
4
3
3
2
2
3
3
3
3
2
4
1
4
1
3
4
2
3
3
2
3
3
|
2
3
2
2
3
1
4
4
2
3
3
2
3
2
1
2
3
4
1
2
2
2
2
4
1
1
2
2
4
1
|
2
2
2
3
2
1
3
3
4
3
3
1
2
3
1
4
3
2
3
4
2
2
3
4
3
2
2
3
2
3
|
31
28
18
29
21
14
26
25
31
25
27
18
23
30
19
29
24
27
24
23
24
13
26
28
19
24
23
25
30
31
|
Dan
skor butirnya dijumlah sehingga menhasilkan skor total. Selanjutnya skor total
antara kelompok ganjil dan genap dicari korelasinya. Jadi yang dikorelasikan
adalah : koefisien korelasi 0,68.
Koefisien korelasi ini selanjutnya dimasukkan dalam rumus Spearman Brown.
Jadi
realibilitas instrumen gaya kepemimpinan = 0,809. Karena berdasarkan uji coba
instrumen ini sudah valid dan reliabel seluruh butirnya, maka instrumen dapat
digunakan untuk pengukuran dalam rangka pengumpulan data.
TABEL 6.14
DATA
UNTUK ITEM GENAP
|
No
Res
|
Item
No.
|
Skor
total
|
||||||||
|
2
|
4
|
6
|
8
|
10
|
2
|
4
|
6
|
8
|
||
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
|
3
3
1
3
3
1
3
3
4
2
4
2
3
3
3
2
3
1
3
2
2
1
3
3
2
2
3
3
3
4
|
3
2
2
3
3
1
3
2
4
3
4
1
3
3
3
3
3
2
3
4
3
1
4
3
4
4
4
3
3
4
|
2
4
2
2
3
1
3
3
4
3
4
1
3
3
2
3
2
2
4
3
3
2
2
3
2
2
2
3
3
2
|
4
4
2
3
3
2
3
3
3
3
2
3
3
2
4
3
2
4
4
3
3
2
4
3
3
4
2
3
2
3
|
3
2
1
3
3
2
3
3
3
3
2
3
3
4
2
2
3
3
2
3
3
3
2
3
2
2
4
3
4
4
|
4
3
1
3
2
3
3
3
3
2
4
1
2
2
2
4
3
3
3
2
3
4
3
3
3
4
2
3
2
1
|
3
3
2
3
3
2
3
3
3
4
2
1
2
4
1
3
2
3
3
3
2
1
3
3
4
2
2
2
3
2
|
4
3
1
3
2
1
2
3
3
2
4
3
3
3
2
3
4
2
3
3
3
1
4
3
3
2
3
2
3
2
|
3
3
2
2
2
1
4
2
3
2
2
2
3
3
2
3
2
3
1
2
3
3
4
3
1
3
3
4
2
2
|
29
27
14
25
24
14
27
25
30
24
28
17
25
27
21
26
24
24
25
25
25
18
29
27
24
25
25
24
27
24
|
No comments:
Post a Comment